Mengenang Hari Lahir Pancasila di Tengah Pandemi Covid-19

Mekar : Gambar burung garuda
Oleh : *Imroatun Jamilah

 “Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah.” Itulah ungkapan Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia yang sanggup menggetarkan jiwa generasi bangsa.

Kata-kata mutiara yang sanggup mneyadarkan kita tentang pentingnya makna Pancasila.
Kata Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua kata yaitu panca yang berarti lima dan sila yang berarti asas atau prinsip. Sehingga dapat diartikan bahwa Pancasila adalah rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila harus kita junjung tinggi sebagai bukti cinta kita kepada tanah air. Namun seringkali kita melupakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yang seharusnya dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Hari lahirnya Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni telah menyadarkan kita betapa pentingnya memahami makna dibalik dasar negara Indonesia yang menjadi ideologi bangsa. Lahirnya Pancasila ini adalah judul pidato yang disampaikan oleh Ir. Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. Saat itu Indonesia masih berada dalam penjajahan Jepang. Dalam pidato inilah, konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia.

Kronologi Rumusan Dasar Negara (Pancasila)

Dalam merumuskan Pancasila, BPUPKI mengadakan sidang rumusan dasar negara. Sidang BPUPKI dilakukan 2 kali. Sidang pertama diadakan pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya dengan tema dasar negara. Sidang ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon No. 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Gedung ini merupakan gedung Volksraad atau Perwakilan Rakyat pada zaman Belanda. Tokoh-tokoh yang mengusulkan rumusan dasar negara tersebut adalah Mr. Muh. Yamin, Prof. Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno. Pada sidang pertama ini, rumusan dasar negara diawali oleh usulan Mr. Muh. Yamin dengan mengajukan lima asas dasar negara kebangsaan Republik Indonesia, yaitu peri kebangsaan, perikemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Selanjutnya pada 31 Mei 1945, Prof. Dr. Soepomo mengajukan dasar negara Indonesia merdeka, yaitu persatuan, kekeluargaan, keseimbangan lahir dan batin, musyawarah, serta keadilan sosial. Usulan ketiga datang dari Ir. Soekarno yang mengemukakan lima rumusan dasar negara Indonesia merdeka, yaitu kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ir. Soekarno berpendapat bahwa Pancasila bisa diringkas menjadi tiga sila (Trisila) yang terdiri dari sosial nasionalisme, sosial demokrasi, dan ketuhanan. Ia juga menegaskan bahwa ketiga sila tersebut bisa diringkas lagi menjadi satu sila (Ekasila) yaitu gotong royong.

Sidang pertama BPUPKI berakhir pada 1 Juni 1945 namun belum menemukan titik terang mengenai dasar negara Indonesia. Sehingga pada tanggal 22 Juni 1945 BPUPKI membentuk panitia kecil yang beranggotakan 9 orang sehingga disebut juga dengan panitia sembilan. Tugas panitia sembilan adalah membahas usul dan konsep para anggota mengenai dasar negara Indonesia. Tokoh-tokohnya yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Muh. Yamin, Mr. Ahmad Soebardjo, Mr. A. A. Maramis, Abdul Kahar Muzakir, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, dan Abikusno Djokrosujoso. Sesuai tugasnya, panitia sembilan menghasilkan asas dan tujuan negara Indonesia merdeka.

Isi asas tersebut yaitu: 1) Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; 2) Dasar kemanusiaan yang adil dan beradab; 3) Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijasanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; dan 5) Mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Setelah melalui proses persidangan akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Sukarno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pada sidang kedua BPUPKI (10 Juli – 17 Juli 1945). Kemudian disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.

Makna Hari Lahirnya Pancasila

Lantas, apakah makna dari memperingati hari lahirnya Pancasila bagi bangsa Indonesia? Tentu saja peringatan hari Pancasila bukan hanya sekadar diperingati lalu dengan perayaan meriah atau upacara di sekolah-sekolah, lalu dilupakan begitu saja. Melainkan hari lahir Pancasila harus dijadikan stimulus bagi kita untuk tidak sekadar menghafal bunyi Pancasila, tetapi juga memahami sedalam-dalamnya makna yang terkadnung di dalamnya agar dapat dijadikan pedoman hidup kita sehari-hari.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan era digital saat ini, seringkali masalah muncul di negeri ini, terutama soal politik dan pemerintahan, ekonomi, sosial budaya yang selalu menjadi bahan ancaman terhadap mempertahankan identitas nasional. Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia menjadi umpan wabah radikalisme yang melanda negara kita. Hal ini merupakan tantangan besar bagi Indonesia karena dinilai membahayakan bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ditambah lagi, menyebarnya pandemi Covid-19 yang semakin melebar menambah permasalahan menjadi kompleks.

Sehingga hari lahir Pancasila pada 1 Juni 2020 diperingati dalam suasana kecemasan dan keprihatinan bagi bangsa Indonesia. Tercatat per Mei, kasus Covid-19 di Indonesia terkonfirmasi sebanyak 25.773, yakni pasien sembuh sebanyak 7.015 orang, dan meninggal sebanyak 1.573 orang. Namun musibah ini tidak boleh membuat bangsa Indonesia pesimis dan terpuruk berkepanjangan, akan tetapi tetap memberi semangat baru dan rasa optimis yang tinggi bahwa bangsa Indonesia akan bangkit melawan pandemi Covid-19 sampai titik penghabisan dengan catatan, patuh kepada aturan.

Sebagai negara yang merdeka, Indonesia telah mengalami masa-masa kelam berabad-abad lamanya. Kekejaman bangsa asing yang mengeksploitasi seluruh kekayaan negeri ini cukup menjadi saksi akan kepedihan para pejuang dalam mempertahankan Indonesia. Hingga akhirnya, atas berkat rahmat Tuhan Indonesia dapat memperoleh kemerdekaan. Dengan membuka lembaran lama di masa lalu telah menyadarkan kita akan pentingnya mengingat sejarah. Sejarah ada bukan untuk dilupakan dan dibuang begitu saja lalu dihempaskan sejauh-jauhnya. Akan tetapi penting untuk kita kenang terutama bingkai peristiwa yang dapat kita ambil untuk dijadikan pelajaran di masa depan.


Jika kita mengaku cinta Indonesia
Mari bangun negeri ini bersama-sama
Kerahkan semangat dan jiwa yang merdeka
Selagi kita masih di usia muda
Belajar dengan giat, ikhlas, tanpa mengharapkan apa-apa
Agar kita menjadi pribadi yang berkualitas dan pantas menjadi harapan bangsa 


*Mahasiswa Prgram Studi Ilmu Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Madura  dan Anggota LPM Activita

Daftar Pustaka :

Andriyanto, dkk. 2013. Sejarah Indonesia SMA/MA dan SMK/MAK Kelas XI Semester 2.
Klaten: Viva Pakarindo.

tn. 2020. Sejarah Hari Lahir Pancasila yang Diperingati 1 Juni 2020 Besok. Diakses dari
https://m.detik.com pada tanggal 1 Juni 2020 pukul 07.31.

tn. 2020. Makna Hari Lahir Pancasila di Masa Pandemi Covid-19. Diakses dari
https://www.suarapemredkalbar.com pada tanggal 1 Juni 2020 pukul 07.33.

tn. 2020. Ini Makna Hari Lahir Pancasila Menurut Generasi Milenial. Diakses dari
https://jabar.tribunnews.com pada tanggal 1 Juni 2020 pukul 07.34.

0 Response to "Mengenang Hari Lahir Pancasila di Tengah Pandemi Covid-19"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel