Iqmal_Design
Iqmal_Design
Iqmal_Design

Refleksi HGN: Sudahkah Kamu Muliakan Gurumu Hari Ini?


Oleh: Fitriatul Laili*

Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November menjadi momentum besar dalam dunia pendidikan. Hampir tidak absen di setiap satuan lembaga pendidikan menggelar upacara Hari Guru Nasional sebagai perayaan dan rasa hormat kepada guru. Bahkan tidak hanya di lembaga pendidikan, di kantor-kantor dinas pendidikan dan kabupaten pun juga turut mengadakan upacara Hari Guru Nasional. Betapa mulianya guru, bukan? Sebagai rasa takdzim dan dedikasi kepada guru, sejak tahun 1994 pemerintah menetapkan adanya Hari Guru yang bertepatan dengan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Hari Guru Naisonal menjadi salah satu hari besar di Indonesia. Peringatan ini untuk mengingatkan kita dan generasi selanjutnya untuk memberikan dedikasi yang besar pada pengorbanan seorang guru dalam melakukan transformasi ilmu pengetahuan. Bahkan guru di Indonesia dikatakan sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Bagaimana tidak? Didikan guru mampu menjadikan dan melahirkan siswa yang pintar, rajin, disiplin, berintelektual dan sebagainya. Sehingga dari didikan tersebut, mampu mengantarkan siswa untuk menuju dan meraih cita-cita yang diinginkan. Bahkan dalam semboyan Ki Hajar Dewantara , tokoh pendidikan di Indonesia menyebutkan Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di Depan Memberikan Tauladan), Ing Madya Mangun Karsa (Di Tengah Membangun Semangat), Tut Wuri Handayani (Dari Belakang Memberikan Dorongan). Melalui semboyan inilah kita akan tahu kontribusi besar guru dalam dunia pendidikan.

Menjadi seorang guru profesional bukan hal yang mudah untuk dilaluinya. Tidak semua orang mau menjadi guru, dengan alasan-alasan tersendiri. Profesi guru merupakan panggilan jiwa untuk menciptakan maupun melahirkan generasi insani yang lebih baik dari masa sebelumnya. Mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan zaman yang akan mereka hadapi. Betapa mulianya seorang guru?

Meskipun Hari Guru Nasional diperingati setiap tahun oleh seluruh siswa di belahan bumi Nusantara, kesajahteraan seorang guru dalam mengajar masih terus menjadi pertanyaan. Bagaimana tidak, kesejahteraan guru honorer yang tak berkesudahan di negeri ini. Belum lagi guru di Indonesia yang bermasalah dengan hukum hanya karena mencubit memukul siswanya secara tidak sengaja atau karena melakukan kesalahan. Berbeda dengan zaman dahulu, orang tua siswa yang anaknya dipukul guru mata pelajaran menerima dengan ikhlas, tetapi sekarang sebaliknya. Namun di era sekarang, guru seakan-akan terikat dengan UU Perlindungan Anak, sehingga mereka mempunyai batasan yang jika dilanggar akan bermasalah dengan hukum. Sedangkan kalau tidak ditindak lanjut, siswa akan menjadi-jadi untuk nakal dengan seenaknya. Aneh bukan?

Lebih parahnya lagi ketika kita flashback pada kejadian beberapa bulan yang lalu di Kabupaten Sampang. Seorang siswa yang memukul gurunya dan mengakibatkan sang guru meninggal. Kembali pada UU Perlindungan Anak, guru tidak leluasa dalam menghukum siswa. Sehingga guru menjadi korban. Kejadian tersebut menandakan bahwa saat ini siswa di beberapa sekolah sudah mengalami krisis moral. Penghormatan dan rasa tadzim pada sang guru mulai luntur. Guru yang dulunya dihormati, bahkan jika kita melihat pada cerita tempo dulu, seorang santri yang sangat tadzim pada guru hingga ia menjadi orang besar lantaran ketadzimannya, hari ini sudah sulit kita temukan.

Melihat beberapa kejadian yang menimpa guru-guru di Indonesia seakan-akan momentum Hari Guru Nasional hanyalah peringatan ceremonial belaka yang diperingati setiap tahun. Upacara di lapangan sekan-akan hanyalah sebagai rutinitas tahunan. Namun dedikasi nyata, penghormatan nyata pada sang guru sulit kita temukan.

Ketika kita merujuk pada syarat orang mencari ilmu yang tercantum dalam kitab Talim Al-Mutaallimi karangan Syekh Az-Zarnuji salah satunya ialah memuliakan guru. Untuk memperoleh ilmu bermanfaat guru adalah orang yang harus dimuliakan sebagai orang yang mengajarkan kita dari tidak tahu sampai tahu. Bahkan dalam kitab yang sama, untuk memperoleh ilmu bermanfaat orang yang mencari ilmu harus memuliakan guru beserta keluarganya. Tidak hanya itu, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib pun mengatakan bahwa “setiap orang mengajarkanmu meskipun hanya satu huruf, maka dia adalah gurumu”. Betapa mulianya guru di masa lalu yang akhir-akhir ini sulit kita temukan. Mungkin kemuliaan seorang guru dapat kita temukan langsung di lingkungan pesantren yang di dalamnya sudah dididik penuh untuk tadzim dan memuliakan gurunya.

Sebagai seorang yang masih menempuh dunia pendidikan, perlu kita ingat bersama bahwa hari guru bukanlah peringatan ceremonial semata. Akan tetapi, bagaimana kita memberikan dedikasi yang besar dan memuliakannya sebagai seorang guru yang rela meluangkan waktunya untuk anak didiknya.  Yang menjadi pertanyaan penulis ini, sudahkah kamu memuliakan gurumu hari ini?

* Program Studi (Prodi) Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (TIPS) Semester 5 dan Pengurus UKK LPM Activita 2019-2020.

0 Response to "Refleksi HGN: Sudahkah Kamu Muliakan Gurumu Hari Ini?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

 photo https://1.bp.blogspot.com/-ODdkKsb4Elw/XbZ_DAkBSgI/AAAAAAAAFMQ/rbYq6H9jL4UVH1j6Q65PpS-bFlm2X7spwCLcBGAsYHQ/s1600/DJTD.jpg

Iklan Tengah Artikel 2

 photo https://1.bp.blogspot.com/-oIFtxJ3n9fY/XcziHRYCVCI/AAAAAAAAFTc/K7c6AeumVGEJgJe3xNJSYDNu_5IbaxqRACLcBGAsYHQ/s1600/20191114_121035.jpg

Iklan Bawah Artikel