Saat itu - Camelia

"Saat Itu"

       Saat semua orang tak lagi hadir memberi sepucuk harapan, saat raga rapuh tertelan kesunyian, semua pergi mengintai kesibukan masing-masing, lupa akan kehadiranku yang masih butuh sandaran mereka. Aku tetap berjalan dengan langkah gontai, menelusuri setiap tangga yang ada di depanku menuju suatu tempat dimana aku menorehkan dentuman sakit yang terasa, perlahan dan terus melangkah. Aku sampai pada tempat itu dimana oretan kisah tertanam tak ada stupun yang memahami dengan sejuta luka yang aku alami. Akupun duduk terdiam beberapa saat mengontrol emosi yang tengah berkecamuk dengan fikiran
“Sebegitu tak berhargakah aku tuhan?” teriakku memberontak keadaan,
“Hingga tak ada satupun yang hadir temani aku saat peroblematika menghampiriku “.
Batinku seakaan-akan memberontak merasakan semuanya. Sakit saat semuanya menghilang saat aku kehilangan salah satu teman hidupku. “ kakak” iya, aku telah kehilangan seseorang yang selama ini menjadi sandaran, pahlawan,motivator dan sahabatku. Saat semuanya menghilang, hanya dialah yang ada untukku adek semata wayangnya. Aku tetap tak bisa  menerma kepergiannya 10 hari yang lalu, dimana penyakit kankernya telah sampai stadum akhir dan dokter  tidak bisa menyelamatkannya.
“Kakak... aku tidak ingin kehilanganmu“, kata itu selalu mengisi pikiranku.
Saat aku terdiam, perlahan ada suara ada suara langkah kaki dibelakangku, aku berbalik memandangi orang asing yang saat ini berada dibelakangku.
”Jangan larut dalam kesedihanmu, di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan senyumanmu” dia perlahan menghapus sisa air mata yang sedari tadi mengalir di pipiku, entah siapa dia yang jelas aku teraku melihat mata sayunya aku merasa tenang.
 “Ka... kamu siapa” tanyaku.
"Tak perlu kau tanyakan aku siapa, tapi yang jelas aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia, itu saja“ ujarnya.
***
Senjapun kini hadir berdialog dengan sejuta enonsiasi mentari, yang semakin hari luka itu memudar dengan kehadiran dia yang masih sementara namun sudah mampu menghilangkan sedikit beban yang aku rasa. Dari luar sana terdengar suara ketokan pintu, aku berjalan tergesa-gesa karena aku yakin itu pasti dia yang ingin menepati janjinya  untuk membawaku kesuatu tempat. Perlahan aku membuka pintu,
“Kamu udah siap ?”tanya dia,
“Udah “ jawabku.
Dengan menggunakan sepeda motornya kita berangkat menuju temmpat yang ia tunjukkan ke padaku. Entah mengapa seakan jalan tempat ini tidak asing bagiku.
“Sebenarnya kita ingin kemana ?” tanyaku,
“Aku hanya ingin mengembalikan senyum kamu“ ungkapnya,
“Tapi, aku gak suka kamu bawa aku ketempat ini “ jawabku marah, karena tempat ini benar-benar mengingatkanku akan kenangan masalalu “Kakak”, aku merindunya.
Aku memaksa untuk pulang, iapun langsung mengantarku kembali kerumah, tanpa ada sepatah katapun aku mulai enyah dari hadapan dia, ia menarikku
“Maaf kalau aku  membuatmu marah” ucapnya. Namun aku tetap tidak menghiraukan.
Kejadian itu membuat aku dan dia tidak bertemu. Beberapa hari sudah aku tidak mendengar kabarnya, namu seketika aku terkejut mendengar ketokan pintu
“Siapa itu ?” batinku bertanya.
Aku mencoba melangka untuk mengetahui siapa yang mampir kerumah, perlahan aku membuka pintu dan ternayata..
“Kamu” ucapku,
Aku berusaha untuk meninggalkannya tetapi dia mengejarku.
“Kamu kenapa menghindariku? Aku ingin menjelaskan semuanya kenapa aku membawa mu ketempat itu“ jelasnya.
"Aku kenal kakak kamu, aku tau dia“
Seketika langkahku terhenti, mendengar ucapannya
"Apa, dia mengenal kakakku?”batinku bertanya.
" Aku berharap kamu  ingin mendengar penjelasanku" tuturnya.
“Aku bukan sekedar mengenal kakakmu, tapi dia adalah orang yang menyelamatkanku dari keputusan yang aku rasa selama satu tahun ini “ jelasnya panjang lebar namun aku masih belum saja mengerti,
“Kakakmu telah mendonorkan matanya untukku, karen ia tidak ingin melihatmu terpuruk melihat kepergiannya, setidaknya ada salah satu yang bisa ia tinggalkan dan bisa kamu terus kamu lihat meski ia sudah berada di alam yang berbeda, dan hal itu ia percayakan padaku” tuturnya.
Aku masih belum percaya ternyata kakakku melakukan hal itu bahkan ia sudah tak ada lagi disini ia tetap ada di sampingku meskipun melewati orang lain.
“Saat itu, dia menyuruhku untuk menjagamu dan menganggapmu sebagai adeknya sendiri, tapi hal itu tidak bisa, karena aku lebih suka kamu jadi masa depanku dari pada sebagai saudaraku” ungkapnya.
Aku terkejud mendengar tuturnya, pantas saja selama ini aku merasa tenang berada di dekatnya, ternyata mata kakak ada pada dirinya, orang yang selama beberapa minggu ini selalu ada untukku. Entah aku harus menganggapnya sebagai kakak atau tidak, tapi yang jelas batinku merota untuk “tidak” karena aku juga memiliki rasa yang sama dengannya. Ia menyadarkaku dari lamunan panjang.
“Sekarang semua keputusan ada di kamu, mau menganggapku sebagai apa, karena tujuanku hanya satu yaitu membuatmu tersenyum bahagia, itu saja ” ungkap dia dengan tulus.
Dan sejak saat itu aku menemukan kebahagiaan baru dimana bukan hanya ketulusan rasa yang kutemukan namun juga aku melihat kakak dalam dirinya, tetapi aku menyayanginya bukan karena salah satu organ kakak ada pada dirinya, tetapi ia mampu membangkitkanku saat yang lain pergi tak menyisihkan jejak apapun.


Pamekasan, 07 Oktober 2019. 


Camelia

0 Response to "Saat itu - Camelia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel