Rotasi Kehidupan - Eka Nurul Laily N

ROTASI KEHIDUPAN
Oleh: Eka Nurul Laily Nailufar
TBI-E/1

Sheiza Ely McMillan, akrab disapa Ely. Saat ini, ia memilih duduk diam termenung menopang dagunya didalam kelas dibanding pergi ke kantin untuk istirahat seperti yang teman-temannya lakukan.
Hoyy, El, kenapa? Suram sekali wajah kamu Diena, salah satu temannya yang tiba-tiba menghampirinya dan mengagetkan dirinya yang duduk termenung disitu.
Gak apa-apa balas Ely dengan senyum tipis yang terkesan dipaksa.
Yakin Gak apa-apa? tanya Diena dengan tatapan menyelidiknya. Ely membalasnya dengan mengangguk pelan.
Terus, kenapa kamu Badmood gitu? Lagi berantem sama Joe? tanya Diena mengerutkan keningnya.
Gak, lagi badmood aja, bukan berarti berantem sama Joe jawab Ely sekenanya. Joe adalah kekasih Ely. Mereka jadian sektar sebulan yang lalu.
Ohh gitu, ya sudah, aku istirahat duluan ya seakan mengerti bahwa Ely ingin sendiri, Diena meninggalkan Ely pergi ke kantin.
‘Roda kehidupan itu berputar’ batin Ely. Ia merenungkan peristiwa yang dilaluinya di masa lalu.
Ketika ia masih kecil, ia merasa dunianya luas, dan merasa dunia dimilikinya. Sebab keluarga yang sangat menyayanginya, dimana pada saat itu, keluarganya adalah keluarga paling dihormati oleh masyarakat sekitar. Sampai suatu ketika semuanya berubah. Satu per satu keluarga yang disayanginya meninggalkannya.
Neneknya, yang selalu menyayanginya melebihi apapun telah pergi menghadap sang kuasa. Masih sangat jelas dalam ingatannya, bahwa yang selalu meluangkan waktu dan merepotkan diri  untuknya adalah sang nenek, bukan ibu, apalagi ayah. Kepergian sang nenek adalah awal dari semua kehancuran yang dirasakannya sampai sekarang. Lalu sang kakek yang turut andil dalam merawat dan mendidiknya, telah menyusul sang nenek menghadap sang kuasa dikarenakan penyakit yang dideritanya. Kakeknya, merupakan seseorang yang sangat dihormati oleh masyarakat sekitar, tak jauh berbeda dari sang nenek, kakek juga sering memanjakan Ely, memberikan apa saja yang Ely inginkan. Sedangkan kedua orang tuanya telah berpisah bahkan sejak ia masih kecil. Katakanlah Ely ini adalah korban broken home.
Ely lagi-lagi menghela nafasnya kasar, ia sudah muak. Muak dengan segala hal yang membuatnya tidak berhenti untuk berpikir akan masalah yang melandanya. Ingatannya tentang semalam terus berputar dalam otaknya bagai kaset yang rusak. Problema rumah tangga. Hey cmon! Ely masih sekolah meskipun dia sudah cukup faham dengan duduk permasalahannya, harusnya berita seperti itu tidak sampai terdengar olehnya.
Semalam, ia mendapat kabar dari ibu tirinya bahwa sang ayah lagi-lagi pulang dengan wanita yang berbeda. Ayahnya memang menikah lagi dengan janda beranak tiga, mendengar kabar tersebut, tentu sakit dan sesaklah yang dirasakan. Sedari dulu, ayahnya memang tidak pernah berubah, tetap suka bermain-main dengan wanita, hal itulah yang menjadi alasan kenapa kedua orang tuanya berpisah.
Saat ini ia tinggal sendiri di rumah yang ayahnya belikan, sebagai hadiah atas kesehatannya yang pulih dari sakit. Mamanya, tinggal di rumah almarhum kakek bersama adik bungsunya yang bernama Nabila. Ely mengingat lagi kenangan indah masa kecilnya. Saat dimana dirinya dijadikan sebagai tuan putri oleh keluarganya, tetapi saat ini ia hanya merasa sebagai satu-satunya orang yang menerima takdir kejam seperti ini.
Ia sendiri. Benar-benar sendiri, sejak ayah dan mamanya berpisah ia memilih untuk hidup sendiri dalam gelapnya sunyi. Ia merasa lebih nyaman sendiri dalam sepi, karena itulah, ia selalu menghindari keramaian. Baginya, sunyi dan sepi menimbulkan kedamaian tersendiri dalam dirinya.
Kembali pada permasalahan ayahnya, ingin sekali Ely meluapkan apa yang selama ini dirasakannya, ingin sekali Ely mengatakan bahwa betapa kecewanya ia pada ayahnya yang tidak berhenti dari tingkah buruknya. Tapi apa daya, Ely sangatlah menyayangi ayahnya, ia tak mampu mengatakan itu pada ayahnya, ia tak berani menampakkan kecewanya, karena saat bertemu dengan ayahnya, ia selalu memakai topengnya tanpa ada orang lain tau. Pura-pura bahagia didepan keluarganya terutama kedua orang tua kandungnya meski tak jarang juga ia bersikap dingin.
Ely tersentak dan tersadar dari lamunannya saat sebuah tangan memegang tangannya. Ely menolehkan kepalanya dan mendapati Azka, sahabatnya menatapnya dengan tatapan teduh membuat Ely merasakan ketenangan.
Kenapa? tanya Azka sambil mengusap puncak kepala Ely. Ely hanya menggeleng pelan, namun tak urung matanya berkaca-kaca.
Menangislah satu kata namun mampu membuat tubuh Ely perlahan bergetar seperti menahan isak tangisnya, dan ketika Azka membawanya dalam dekapannya, jadilah iiia menangis dengan sekencang-kencangnya.
Azka, sahabat laki-laki Ely satu-satunya. Azka sering berada disisinya, dan ada untuknya seperti saat ini. Bukan Ely tak sadar atas perlakuan Azka yang membuatnya merasa di prioritaskan dan istimewakan, ia tahu, karena memiliki kepakaan di atas rata-rata. Azka menyukainya, Azka menyayanginya, Ely tau itu. Saat menatap mata Azka, Ely selalu melihat ketulusan dimatanya. Hanya saja, sampai saat ini, ia takut, begitu takut hingga menimbulkan trauma.
Belajar dari pengalaman yang ditunjukkan keluarganya, ia tak pernah percaya akan cinta lagi. Meski pada kenyataannya, saat ini Ely memiliki kekasih bernama Joe yang notabennya adalah kakak kelasnya, sebenarnya itu bukan murni rasa cinta dari Ely pada Joe, karena nyatanya Ely tau bahwa dirinya hanya bahan taruhan yang dilakukan oleh sang kekasih dan teman-temannya. Awalnya alasan Ely menerima Joe ialah ingin membuktikan sendiri bahwa cinta itu tak ada, dan sekarang ia benar-benar membuktikannya melalui apa yang dilakukan Joe. Kata-kata manis yang Joe ucapkan pada Ely sesungguhnya tak mempan bagi Ely, hanya saja Ely mengikuti alur permainan yang dimulai oleh Joe. Bukan Ely tak tau apa yang dilakukan Joe dibelakangnya, nyatanya Joe tak jauh beda dari ayah yang selama ini dibanggakannya. Sama-sama bermain wanita. Ely membenci hal itu, tak jarang pula Ely menganggap semua laki-laki itu sama.
Sebentar lagi bel akan berbunyi, cuci muka sana ucap Azka jenaka, saat Ely sudah berhenti menangis dan melepas pelukannya dari Azka.
Mau ikut? tanya Ely dengan nada sok polosnya. Azka terkekeh membuat Ely menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman manis.
***
Kamu kurusan El ucap pria paruh baya, ia tetap terlihat tampan dan gagah saat ini meski beberapa uban menumbuhi kepalanya. Sang Ayah, seseorang yang sangat dibanggakannya, sekaligus seseorang yang menorehkan luka dan kecewa padanya.
Oh ya, masa sih?” tanya Ely tak percaya.
Iya, tanya saja pada Enzo jawab ayah sambil menunjuk Enzo yang terlihat sibuk dengan ponselnya, sama seperti ayahnya, Enzo juga tak kalah tampannya dari sang ayah. Enzo adalah adik kedua sekaligus anak laki-laki satu-satunya dikeluarganya. Ely memiliki dua saudara, yaitu Enzo yang saat ini ada dihadapannya berjenis kelamin laki-laki, ia tinggal bersama sang ayah. Dan Nabila, sang adik yang periang ikut bersama mamanya dirumah almarhum kakeknya. Lalu dirinya yang tinggal sendiri seperti yang sudah diberi tahukan.
Benar dek? tanya Ely pada Enzo yang mengendikkan bahunya.
Makanya rajin-rajin makan sayang saran ayah sambil mengusap pucuk kepalanya lalu mengecup keningnya.
Gak nafsu makan Jawab Ely sekenanya.
Memangnya mikirin apa sih sampai tidak nafsu makan? tanya ayah lagi. Diam, Ely hanya mampu terdiam tanpa suara, seakan ia takut jiika bersuara itu akan menjadi boomerang bagi dirinya.
 Ya sudah, ayah sama Enzo pamit pulang dulu ya, kamu jaga diri baik-baik, jaga kesehatan, rajin makan, jangan pikirkan apapun yang akan membuatmu sakit kepala, dan satu lagi, pilihlah laki-laki yang baik yang bisa melindungimu dan selalu bersedia disampingmu ucap sang ayah sebelum pergi dari rumahnya dengan Enzo. Mendengar ucapan ayahnya entah kenapa membuat Ely menjadi tak tenang.
***
Berhubung hari ini adalah hari minggu, Ely ingin bersantai seharian penuh tanpa gangguan apapun.
Dertttt Derttt ponselnya bergetar, membuatnya menggerutu tak jelas, ia lupa tak mematikan ponselnya agar tidak mengganggu tidurnya. Tertera nama Joe dilayar ponselnya, Ely mengernyit heran, Joe tiba-tiba menghubunginya.
Halo, kenapa Joe? tanya Ely tanpa basa-basi.
Tidak bisa, aku sibuk hari ini
Tidak bisakah ungkapan pentingmu di handle ke hari lain
Mempertemukanku dengan seseorang? Siapa?
Okay, nanti saja, aku masih ingin tidur”
Kenapa kamu sangat memaksa?
Ok, aku otw Ely mendecak kesal saat Joe memaksanya untuk datang ke cave hanya untuk memperkenalkan seseorang padanya.
***
Ely menatap datar pada apa yang ada dihadapannya saat ini. Joe dan kekasihnya, juga teman-temannya yang berada di meja yang berbeda namun memperhatikan tempat ini. Hhh, lihatlah perlakuan mesra Joe pada kekasihnya, perutnya terasa melilit melihat hal tersebut. Ia menyesal telah datang kesini, bukan menyesal iri karena dipertontonkan adegan didepannya, melainkan menyesal menyia-nyiakan kesempatan tidur nyenyaknya. Ia mendengus kesal.
Jadi, kamu panggil aku kesini Cuma mau nunjukin ini ke aku? sarkas Ely. Joe dan kekasihnya yang bernama bela itu mengalihkan perhatiannya pada Ely.
Aku pikir kamu sudah pergi kekeh Joe, Ely mendengus, Bella tersenyum miring.
Ok! El, aku Cuma mau ngenalin Bela sama kamu, dia pacar aku sekarang, dan kita putus tegas Joe, Ely terkekeh membuat semuanya yang memperhatikan heran.
Kenapa gak dari dulu aja, btw terima kasih sudah bebasin aku, well sebemarnya aku tau, kamu Cuma jadikan aku taruhan, kamu pikir aku bodoh tidak menyadari pacar kamu bukan Cuma satu-dua, haha aku percaya kamu itu setia, setiap tikungan ada, kalau begitu semuanya clear, kita putus, sekai lagi aku sangat berterima kasih sama kamu sudah putusin aku setelah mengucapkan hal itu, Ely berdiri dari tempatnya lalu melangkah anggun pergi meninggalkan mereka yang masih terpaku pada kelakuan Ely yang mencengangkan. Mereka pikir Ely itu polos dan lugu atau bodoh? Nyatanya apapun yang mereka pikirkan tentangnya adalah nol besar.
***
Saat di perjalanan pulang, mendadak perasaan Ely menjadi tidak tenang, kepalanya pusing dan entah kenapa ia mengingat kembali kehidupan keluarganya saat masih kecil.
El... El...El... panggil seseorang dari belakang. Ely tersenyum saat mendapati bahwa Azka yang memanggilnya. Azka berlari kearahnya tanpa mempedulikan orang-orang.
Kenapa lari-lari? Tanya Ely sambil tersenyum pada Azka.
Grepp Arka memeluk Ely erat, menyusupkan kepalanya pada leher Ely.
Ponsel kamu kenapa gak aktif? Aku khawatir banget sama kamu ungkap Azka.
Maaf, aku lupa ponsel aku gak di charger”
Kamu tau kan, aku sayang sama kamu, aku akan selalu ada untuk kamu, di samping kamu, aku... aku... kamu harus sabar yaa, aku akan temanin kamu, kamu harus..
Hey ada apa Azka? Jangan buat aku takut
Om William kecelakaan, ayah kamu sama Enzo kecelakaan
Jangan bercanda Azka, jangan bercanda
Maaf, maaf, maaf, kamu yang sabar ya, kamu harus kuat
Anterin aku Azka
***
Kenapa? Kenapa kalian juga pergi, kenapa gak ajak aku sekalian, kenapa? raung Ely yang masih betah dikuburan sang Ayah dan juga Enzo adiknya.
Ikhlasin El, ayah kamu gak bakalan suka lihat kamu seperti ini, pliss kamu harus kuat, kamu harus El, kalau bukan kamu siapa lagi? Azka, dengan sabarnya ia menemani Ely disana, mendekap erat Ely, menyalurkan kekuatannya untuk Ely, perempuan yang disayanginya.
Kenapa harus ayah sama Enzo dulu ka, kenapa harus orang-orang yang aku sayangi yang selalu pergi lebih dulu? Tidak cukupkah? Nenek, kakek, Om yang paling aku sayangi, dan sekarang Ayah yang aku banggakan dan adikku Enzo, ini tidak adil, ayah selalu mengajak Enzo kemana-mana, entah itu kerja, liburan, mereka selalu berdua, ayah tidak pernah sekalipun tidak bersama Enzo, ayah selalu menyayangi Enzo
Kamu yang sabar ya, kamu harus ikhlas, kamu kuat, aku tau kamu kuat, masih ada mama kamu dan Nabila yang butuh kamu, ini ada surat untuk kamu
Ely terdiam saat membaca surat yang diberikan Azka, air matanya berderai dan mengalir kembali.
Dear
Shezia Ely McMillan
Maaf, maaf karena ayah selalu mengecewakan kamu
Maaf karena tindakan ayah membuatmu seperti itu
Ayah tidak mau kamu berlarut dalam kesedihan
Ayah menyayangimu, nabila begitu juga Enzo
Kalian kebanggaan ayah dan akan selalu ayah prioritaskan.
Maaf, sekali lagi.
Maaf, ayah hanya pamit sekali dan tidak pamit lagi untuk yang terakhir kali
Ayah sangat menyayangi kalian
Jangan lupa pesan ayah waktu itu
Jaga kesehatan dan,
Bangkitlah sayang, bangkit dan larilah pada cahaya yang setia menantimu.
Pergilah padanya.
Ayah yakin, dia akan menghapus gelapnya hidupmu
cahaya selalu mengalahkan kegelapan
Ayah yakin, hanya dia yang mampu menghilangkan rasa takutmu
Ayah percaya padanya
Maka dari itu kamu pun harus percaya
Dialah cahayamu
I LOVE YOU
Selesai membaca surat tersebut, Ely langsung memeluk Azka yang terlonjak kaget karena pelukan dadakan yang diberikan Ely.
Sebenarnya, aku sudah bertemu ayahmu, beliau menitipkanmu padaku, untuk itulah, kamu harus mengikhlaskan segalanya, dan kita mulai dari awal, kita akan berjuang bersama ucap Azka yang diangguki oleh Ely
Terimakasih, I LOVE YOU ungkap Azka mengeratkan pelukannya pada Ely.

0 Response to "Rotasi Kehidupan - Eka Nurul Laily N"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel