Iqmal_Design
Iqmal_Design
Iqmal_Design

Cintamu Restumu

"CINTAMU RESTUMU"
Tinta’s squad

  Seandainya Tuhan membalas suratku, kau tak perlu menambahkan hatimu dan aku tak perlu meliha air matamu.
“Sudahlah kamu Musthofa kamu tidak perlu lagi mengharapkan gadis itu,Ibu sudah tau bagaimana keluarganya, gadis itu bukan gadis yang cocok untukmu kau mengerti”?
“tapi bu,ibu belum tau bagaimana dia sebenanrnya, Zahra tak seprti yang ibu fikirkan dan orng-orang bilang dia baik bu,Musthofa sangat mengenalnya, bahkan sangat”
“Sudahlah ibu tak mau berdebat tentang Zahramu itu, cukup kamu tau Ibu takkan pernah merestui hubunganmu dengannya, ibu lupa ketika seorang gadis memasuki kehidupan seorang lelaki, bahkan seorang ibu pun tak bisa memiliki hatinya”
Ibu meninggalkanku yang duduk termangu menatap kepergian ibu. Aku tak akan pernah tega menyakiti hati wanita paruh baya yamg telah merawat serta melahirkanku tetapi akupun tak pernah mampu mata indah itu mengeluarkan air matanya  yang namanya telah ku tanam indah di hatiku yang bernama Fatimatuz Zahra.
Bagaimana ku harus jelaskan semua kepadanya, Zahra yang selalu mengerti dengan keadaanku, Zahra yang takb pernah marah sesalah apapun diriku. Zahra yang tak pernah bosan mendengar cerita hidupku yang begitu keras dan Zahraku yang selalu berdo’a yang selalu ku selalu sebut ibu, tapi…gadis itu,……..
Zahraku tak pernah marah saat ia tau betapa tidak sukanya ibuku padanya, Ah…aku tau Zahraku hanya menabahkanku, meski hatinya pun lebih terluka daripada aku.
  Dan kali ini ku beranikan diri kembaliuntuk melukai persaan Zahra, setelah beberapa minggu sebelumnya pernah kuceritakan perihal ibuku padanya, aku tau aina akan teluka, tapi harus berkata apa adanya apalgi membahagiakan dengan kebohongan. “Ku harap Zahraku bisa mengerti kondisiku,maafkan aku Zahra” bisikku dalam hati.
  “Ada apa Mas Mus ?... Katakan saja tidak apa-apa” ia tersenyum dengan mat indahnya yang begitu kuat menyimpan linangan. “Maafkan aku Zahra…ini tentang ibu,aku tak berani menentangnya tap aku juga tak ingin menyakitimu apalagi berpisah darimu” aku terduduk tak berani menatapnya, meski akupun tau juga dia tertunduk tak mau menatapku meski hanya sekedar.
“Sudahlah mas jangan terlalu memaksakan keinginannmu, jangan durhakai ibumu demi aku. Keluaga Mas Musthofa terutama ibu jauh lebih penting dari apapun. Zahra mengerti maka dari Zahra tidak akan memaksa”. Zahra menyimpan deraian air matanya,dan tak ingin menunjukan padaku.
 Setelah pertemuan singkat itu, pertemuan yang hanya mengantarkan luka dan kecewa aku dan Zahra tak pernah bertemu lagi, berkomunikasi via telepon pun hanya sekedar bertukar kabar, tetapi setiap subuh Zahra rutin membangunkanku dengan miscallkan yang hingga berpuluh puluh kali. Baru aku bisa bangun dari tidurku
Dan sudah satu bulan aku dan Zahra semakin jarang berkomunikasi, dan orang tuaku semakin menguak untuk merestui aku dengan Zahra, ibuku tetap tidak mau jika aku mengkhitbah Zahra yang malah sebaliknya ibuku lebih setuju jika aku menghitbah pada gadis pilihan ibuku sendiri sebagai pengisi hatiku. Tetapi Zahra membiarkannya entah apa yang ia pikirkan atau mungkin ia sedang menabahkan hatinya.
Lagi-lagi aku melikai hati Zahra saat aku tau kalau gadis pilihan ibuku adalah teman akrab Zahra sendiri. Kutetap memberitahukan hal ini pada Zahra namun Zahra hanya diam saja, terakhir dia hanya mengucapkan sesuatu yang membuatku berfikir keras. “maafkan aku Zahra!, semua ini diluar dugaan dan keinginanku, tapi jangan kau marah pada temanmu, karena aku yang salah jika kamu ingin marah, marahlah padaku!”.
Ku yakinkan hati Zahra, dan aku sudah membayangkan kemarahannya padaku “sudahlah Mas tak apa!, semua orang akan melakukan apapun untuk mengobati lukanya meski dengan melukai orang lain sekalipun itu temannya aku akan mengerti, kita sama-sama terluka, hanya saja kau lebih dulu sembuh dengan melukaiku, aku tak perlu marah, hanya perlu mengikhlaskan saja!”. Begitu tutur Zahra sederhana namun mampu membuatku semakin bersalah. Dan setelah ucapan itu, seperti angina lalu saja, seperti tak pernah terjadi apa-apa, Zahra kembali dalam senyum indahnya, seperti mengajakku melupakan semuanya. Oh Tuhan! Seikhlas inikah Zahra?.
Siang yang panas, mentari tanpa ampun menyengat kulitku saat itu aku sedang sibuk dengan kipas anginku tiba-tiba Hp-ku berdering mengundang rasa penasanku, setelah kulihat ternyata pesan dari Zahra. “maafkan aku! Aku telah mencintaimu sebagaimana aku mencintai seorang yang kamu cintai (ibumu). Dan ketika tidak sengaja cinta itu datang saat itu aku berjanji membuatmu bahagia. Sebab itu, aku memilih pergi, kalau kau tidak bahagia bersamaku untuk apa aku mempertahankan hubungan kita Zahra sudah bahagia jika melihat MSas Mustofa bahagia Mas Musthofa tak perlu khawatir Zahra akan pergi, tapi bukan pergi untuk meninggalkan. Biarkan cinta fitrah ini tak pernah menyentuh fitrahnya,tak memiliki bukan berarti tak dapat mencintai bukan?. Percayalah di setiap do’aku selalu ku lampirkan untukmu juga,semoga kau mendapat wanita lebih baik daripada aku ini dan aku juga bangga karna kau lebih memilih keputusan ibumu dar pada aku,berbaktilah selalu pada ibumu ”.
Hatiku kaget tak mampu mendengar kegelisahan hatinya, aku membalas pesannya dengan perasaan rapuh. “Oh...Zahraku, maafku mungkin tak kunjung pantai menyanding wanita baik seperti dirimu,aku mencintaimu tapi apakah ini takdir kita, keputusanmu adalalah 
Pergi untuk kebahagiannku,maka akupun akan bahagia jika kau bisa hidup tanpaku,semoga kebaikan selalu menyertaimu dan semoga pula Allah menyandingkanmu dengan pria yang lebih daripada aku,lebih pantas mendampimu,,,,Aku mencintaimu Zahraku”.
“Oh ibu...lihatlah! wanita yang kau jauhkan dariku ini adalah akibat ucapan dibibirmu. Ia utuh mencintaimu. Sebab itu dia meninggalkanku bukan karena marah atau membencimu tapi karena mencintamu,dia menjajauh karena tidak mendapat restumu,dia tidak ingin menyakiti perasaan ibu”.

0 Response to "Cintamu Restumu "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

 photo https://1.bp.blogspot.com/-ODdkKsb4Elw/XbZ_DAkBSgI/AAAAAAAAFMQ/rbYq6H9jL4UVH1j6Q65PpS-bFlm2X7spwCLcBGAsYHQ/s1600/DJTD.jpg

Iklan Tengah Artikel 2

 photo https://1.bp.blogspot.com/-oIFtxJ3n9fY/XcziHRYCVCI/AAAAAAAAFTc/K7c6AeumVGEJgJe3xNJSYDNu_5IbaxqRACLcBGAsYHQ/s1600/20191114_121035.jpg

Iklan Bawah Artikel