Pemuda Dalam Meninjau Relevansi Teori Talcott Parsons dengan Kehidupan Era Milenial Melalui Video Dokumenter

Fokus : Pemuda saat main Gadget
Oleh : *Fitriatul Laili

Munculnya era dirsurpsi 4.0 di Indonesia rupanya memberikan dinamika perubahan dalam tatanan sosial. Ditambah lagi kehadiran generasi Y yang turut mewarnai perubahan dalam struktur sosial masyarakat. Tahun 2017 tercatat sekitar 81 juta penduduk Indonesia termasuk dalam generasi milenial. Jadi hampir 32% dari total populasi di Indonesia (Purwono, 2017).

Kehadiran industri 4.0 ditengah-tengah masyarakat telah menimbulkan banyak perubahan secara signifikan. Mulai dari gaya hidup sampai sampai kebutuhan sehari-harinya. Perubahan ini telah berimbas pada perputarqn toda-roda ekonomi (Julianto, 2017). Perbedaan kebutuhan ekonomi telah menimbulkan perlombaan antar masyarakat. hal tersebut menjadi salah satu pemicu konflik antara masyarakat menengah ke atas dan menengah ke bawah.

Kejadian yang cukup menegangkan, ketika terjadi konflik antara supir taksi online dengan supir taksi konvensional pada tahun 2015 silam. Persaingan yang dianggap tidak sehat menyebabkan  demo taksi kovensional menjadi tak terkendali (Marzuki, 2017). Kejadian ini merupakan salah satu imbas dari dirsurpsi 4.0. masyarakat yang serba instant tidak lagi memenuhi gaya hidupnya dengan sesuatu yang dianggap ribet. Hampir secara keseluruhan dipenuhi dengan aplikasi online.

Perkembangan teknologi tidak hanya menimpa masyarakat, namun juga berhasil menghipnotis kehidupan generasi milenial. Generasi yang lahir di era 90-an rupanya lebih dulu dan paham dengan penggunaan teknologi dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dibandingkan, pola hidup generasi milenial lebih terkesan lebih mewah dibandingkan sebelumnya.

Ditambah lagi keaktifan generasi milenial di media sosial jauh lebih tinggi. Hal ini menyebakan kesenjangan sosial antara generasi milenial dengan orang sekitarnya.
Media sosial bukan lagi hal yang tabu untuk kita kenal, bukan? Derasnya arus globalisasi menjadikan dunia seolah dalam genggaman. Orang-orang yang jauh dengan mudah kita jangkau melalui aplikasi di media sosial. Bahkan orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya juga dengan mudah kita kenal di media sosial. Hal ini salah satu akibat dari kehidupan generasi Y yang tumbuh pada era internet booming (Lyons, 2004). Mirisnya kehadiran media sosial membuat generasi milenial kurang peka dan akrab terhadap fenomena di sekitarnya. Kebiasan hidup bersosial mulai berkurang sejak media sosial ada dalam genggamannya.

Kejadian yang telah dialami generasi milenial rupanya telah membuktikan ramalan perempuan asal India semasa hidupnya. Derida mengatakan akan terjadi silent social dalam masyarakat pada 20 tahun mendatang. Namun, tidak satupun orang mempercayainya, bahkan tidak sedikit masyarakat sekitarnya menganggap dia gila. Faktanya di era industi 4.0 ramalan tersebut terbukti. Keasyikan masyarakat khususnya generasi milenial dalam menyelami media sosial telah menimbulkan efek yang cukup besar. Kepekaan terhadap sekitar mulai menurun drastis. Sehingga tidak heran ketika muncul istilah, yang dekat serasa jauh, yang jauh serasa lebih dekat.

Tidak hanya menurunkan kepekaan generasi milenial, aplikasi di media sosial telah berhasil memasukkan budaya luar ke dalam negeri. Style baru yang diminati generasi milenial saat ini merupakan hasil adopsi dari budaya luar. Memakai jeans dengan gaya rambut ala Eropa menjadi ciri khas generasi milenial yang sudah menjadi candu pada gaya hidup orang Eropa. Selain itu, seperti yang kita lihat banyaknya K-Popers menjadi satu hal yang bahwa seni-seni luarnegeri telah berhasil menghipnotis pola pikir generasi milenial. Pasalnya K-Popers yang saat ini banyak bermunculan hampir 95% adalah mereka generasi milenial.

Dinamika perubahan yang terjadi di era milenial menjadi satu tantangan besar bagi generasi X dan baby bommer yang hidup sebelum lahirnya generasi milenial. Mereka yang hidup sebelum milenial adalah masyarakat yang harmonis menjaga kekompakan satu sama lain. akan tetapi kehadiran generasi baru di tengah-tengah mereka menimbulkan terjadinya pergeseran-pergeseran tatanan sosial masyarakat. Talcott Parsons telah menyebutkan ketika terjadi perubahan pada satu bagian akan menyebabkan ketidakseimbangan dan pada gilirannya akan menciptakan perubahan pada bagian lainnya (Bernad Raho, 2017).

Pemaparan Talcott Parsons rupanya telah menjadi bukti nyata saat ini. ketidak seimbangan struktur sosial dalam masyarakat menimbulkan generasi milenial yang seolah hidup dan lebih tahu daripada generasi sebelumnya. Sikap lebih tahu juga menyebabkan kedudukan masyarakat yang dalam struktur sosial berada ditingkat atas sedikit demi sedikit menjadi tergeser sedemikian rupa.
Aktif di media sosial juga menyebabkan mereka lebih minim interaksi di masyarakat, sehingga membuat mereka lupa kalau sebenarnya mereka kurang berperan dalam melaksanakan fungsinya di masyarakat. Sebagaimana yang telah diungkapkan, bahwa masalah utama dalam teori fungsional ialah bagaimana individu memposisikan dirinya dalam masyarakat dan bagaimana mereka mewujudkan apa yang selama ini dicita-ctakan masyarakat atas keberadaan dirinya.

Laporan We Are Sosial yang dilansir dari detik.com mengungkapkan bahwa dari total populasi 265,4 juta penduduk Indonesia, sebanyak 132,7 juta jiwa rupanya telah aktif di sosial media, hal ini menandakan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia telah banyak berkecimpung dalam media sosial. Aktifnya generasi milenial di sosial media memberikan pengaruh besar terhadap lingkungan sekitarnya. Pasalnya, ketika media sosial lebih banyak dijadikan tempat interaksi, maka interaksi dengan lingkungan kemungkinan besar akan jauh berkurang.

Jika Talchot Parson mengatakan bahwa setiap individu memiliki peran dan fungsi dalam masyarakat sesuai strukturnya, maka dengan adanya generasi yang lebih disibukkan dengan sosial media secara perlahan akan menghilangkan fungsinya sebagai makhluk yang bermasyarakat. Hal ini menyebabkan teori yang selama ini menjadi tenar dalam bidang kajian sosiologi maka saat ini dianggap kurang relevan.

Tingkah generasi milenial tidak dapat dibiarkan begitu saja. Harus ada tindakan untuk memperbaiki generasi milenial yang mulai menyalahi fungsinya. Untuk itu, harus ada keterlibatan beberapa elemen dalam mewujudkan generasi milenial yang berpola pikir positif, inkuiri, dan produktif. Video dokumenter menjadi salah satu cara untuk mengetahui dan mempublish kepada masyarakat tentang seberapa besar pengaruh sosial media terhadap generasi milenial. Video ini dapat menggambarkan fakta kejadian yang ada dalam masyarakat, karena dalam video dokumenter memuat fakta bukan fiksi abukan pula memfiksikan fakta atau pemalsuan (Yudhi Munadhi, 2008).

Mempublish video yang didapat kepada masyarakat luas, bukan berarti menyebarkan aib orang yang terdapat dalam video tersebut. Namun hal ini guna menyadarkan dan memberikan kepekaan masyarakat bahwa generasi milenial saat ini telah mengalami pergeseran moral dan sosialnya di masyarakat.

Ketika masyarakat telah mengetahui kondisi generasi milenial yang suesungguhnya, maka yang perlu dikembangkan adalah pendidikan karakter bagi generasi milenial. Saat ini milenial terlihat minim asupan-asupan karakter sehingga harus ada elemen tertentu yang benar-benar mampu mendidik karakter generasi milenial. Pendidikan tidak hanya sebatas menambah pengetahuan, namun pendidikan juga menjadi tempat mereka untuk berlatih dalam berinteraksi dengan masyarakat. Sesuai dengan acuan yang sudah menjadi fokus pendidikan saat ini, bahwa pendidikan juga melatih kepribadian dalam berinteraksi serta menopang perkembangan dan kemajuan masyarakat dalam berbagai bidang, baik di bidang iptek, sosial budaya maupun bidang-bidang yang lain (A. Soedomo Hadi, 2018).

Talcott Parsons juga mengemukakan bahwa pendidikan sebagai wujud kebudayaan, berkaitan erat dengan tingkah laku manusia serta harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menuju proses mobilisasi dan juga mempersiapkan segala keperluan sebagai penunjang pencapaian mobilisasi. Dengan demikian, teori struktural fungsional yang selama ini memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan (Bernad Raho, SVD, 2007) serta memiliki asumsi bahwa semua elemen harus berfungsi (Richard Gratthoff, 2000) dapat terpenuhi dengan baik. Dalam hal ini menandakan bahwa dunia pendidikan menjadi harapan besar masyarakat dalam mengembalikan fungsi generasi milenial sebagai makhluk bermasyarakat.

*Mahasiswa semester 4 Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (Tips) dan menjadi pengurus di Lembaga Pers Mahasiswa Activita 2018-2019.

0 Response to "Pemuda Dalam Meninjau Relevansi Teori Talcott Parsons dengan Kehidupan Era Milenial Melalui Video Dokumenter"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel