Menunggu Ibu


“Imro’ah qanita”

Aku tidak paham, atau mungkin tidak akan, pernah paham Kenapa Ibu selalu meninggalkan janjinya mengajakku ke pantai demi om-om berperut buncit yang datang dengan variasi wajah setiap malamnya. Sudah tiga tahun ini janji ibu tak pernah terpenui untukku. Atau mungkin aku terlalu bodoh mempercayai wajah polosnya yang begitu tega membohongiku bertahun-tahun.

“Ibu sudah memesan kursi roda nyaman dan mobil untukmu. Herlina, kita akan ke pantai besok pagi!” Ibu berkata setiap malam. Wajahnya tak berubah, wajahnya berbinar, lalu segera mengecup lembut keningku. Aku tahu wajahnya tak sehangat hatinya, tapi aku membalas kecupa hambarnya dengan semangat menggebu, meskipun aku tahu persis kursi roda dan mobil pesanan itu tidak akan pernah datang menjemputku, sekarang, esok dan entah kapan.

 Seluruh kakiku tak dapat di gerakkan, ia seperti mati tanpa pemiliknya. Dengan keadaan ini aku tak pernah tahu seperti apa halaman rumahku, yang aku tahu hanya kamar mandi, dapur, ruang tamu dan tempat berbaring setiaku. Ibu bilang, di umur ketujuh belas tahun aku memang belum waktunya untuk bisa berjalan. Entah kenapa aku selalu mengiakan setai kata-kata ibu, meskipun hatiku meronta bertanya ‘mengapa aku begini bu..? aku ingin berlari! Sampai kapan aku begini? Aku bosan hidup dalam kamar dengan kaki yang kaku. Aku benci kaki yang tak berguna ini.

Karena aku hanya bisa berbaring di kasur, jadi yang ku tahu hanyalah beberapa ruangan berikut lukisan pantai yang terpajang di dinding rumah ku yang telah mulai menguning, mengkropos layaknya hatiku yang butuh tempat sampah untuk melampiaskan kotoran uneg-unegku. Air dalam lukisan itu biru mempesona, karena itulah mimpi besarku tercipta. Keinginan kuat untuk menyentuh air laut membuatku mengagumi pencipta lukisan itu. Kata ibu lukisan itu guratan Ayah, aku mengiakan saja kata-katanya meski aku tak tahu seperti apa ayahku, aku bahkan tidak tahu kata ‘ayah’ itu nama orang, mesin atau sejenis apalah aku tak paham.

Aku sangat menyayangi ibuku lebih dari apapun yang ada disini, kamarku dan lebih dari diriku sendiri. Tapi tiba-tiba rasa sayangku pecah saat ibu dijemput Om-om berperut buncit jam delapan malam dan pulang jam sepuluh pagi, berikut wajah berminyak dan bau menyengat dari sekujur tubuhnya sekembali dari ajakan Om-Om itu. Sejak dulu, aku sudah tahu kenapa janji ibu selalu terabaikan untukku, jawabannya ada pada Om-Om berperut buncit itu. Hoah!!! Om-Om berdasi itu membuat mimpiku hancur berserakan, jauh sekali. Mungkin aku tidak akan pernah tahu seperti apa hangatnya pasir dan lembutnya air laut, mungkinkah aku akan merobohkan harapanku sendiri karena Om-Om itu? Aku ingin membunuh Om-Om itu saja jika bisa.

***
Senyumku mengembang, pecahan hatiku terobati. Kebahagiaan agaknya berpihak kepadaku saat mobil taxi pesanan tiga tahun terakhir tak datang-datan, Kini sudah ada di hadapanku. Dan satu hal lagi yang membuat pengetahuanku bertambah, aku tahu seperti apa halaman rumahku, sebab ibu membopongku ke halaman untuk memperlihakan padaku bahwa dia tak rela membohongi putri kesayangannya berkali-kali tanpa ada ujung kejujuran.

“Kita berangkat ke pantainya malam ini sajalah, Bu..” Aku merengek dalam gendongannya sambil mengelus-elus mobil kaca pesanan kami
“Kau meragukan Ibu?” Senyumnya hidup, tatapannya mengusik manja
“Tidak, tidak Bu.. Tapi..?”
“Kau masih Ibu pesankan kursi roda dan sopir mobil ini, kita akan segera ke pantai besok, bergembiralah, Herlina!” Suaranya lincah, aku tak pernah mendapati binar ini sebelumnya, apakah dia juga memiliki mimpi sepertiku tentang air laut?
“Siapa sopirnya, Bu?”
“Pak Mahrus tetangga sebelah, sayang”
“Apakah aku boleh membawa pasir dan air laut sedikit... saja ke rumah, Bu?”
“Tentu saja, sayang! Kau boleh melakukan apa saja besok” Mata dan perasaanya hangat sekali, sehangat pelukannya.
Sejak setelah pesanan mobil itu datang, senyumku seperti tak pernah pudar. Aku tak sabar menunggu pagi. Air pantai serasa memenuhi rongga dadaku, aku sulit tidur membayangkan kelembutan pasir dan kebiruan airnya, hingga Ibu harus memaksaku tiga kali untuk terlelap. Yah tetap saja tak dapat pejamkan mata.

Sepuluh lewat lima belas menit
Seperti biasa. Setiap malam bunyi mobil terdengar berhenti di halaman rumahku, lalu setelah beberapa menit suara laki-laki terdengar manja mengajak pergi ibuku, seperti malam-malam ini om-om itu... tapi kedengarannya ibu bersikap tak seperti biasanya.  Pria paruh baya patuh baya itu terdengar bercekcok dengan ibu, suara ibu seperti berbisik, sedang suara laki-laki itu lantang menantang. Menjadi jantungku bergerak lincah karena mengkhawatirkan ibu, apalagi suaranya seperti memaksa dalam ketakutan
PRANG!!! PRANG!!! “Diam kau, Hardi! Jangan keras-keras putriku belum tidur!” Aku merasakan seperti apa wajah ibu saat itu, sedih sekali!
“Aku tak mau tahu! Malam ini kau harus..”
“Ssst ! Jangan keras-keras! Ok, aku batalkan sajalah kontrakku malam ini, aku harus memenuhi janjiku pada Herlina” Suara ibu bergetar dalam ketakutan. PRANG!!! Bunyi pukulan memenuhi ruang tamu. Suara ibu tiba-tiba menghilang sesaat, hanya desahannya yang tersisa. Aku menutup telinga dengan bantal, berharao semua ini hanya mimpi yang akan berakhir besok pagi.

Lima menit kemudian
Suara ibu menghilang bersama bunyi mobil yang meninggalkan rumahku, bahkan desahan ibu sekalipun.
       ***

Malam usai, pagipun tersenyum merona, tapi tak kudapat Ibu di rumah ini, bahkan mobil pesanan kami pun tiba-tiba ada yang membawa pergi stelah matahari semakin meninggi. Entah siapa yang membawa mobil itu kabur, kudengar suaranya menggelegar meninggalakn rumah ini, pak Mahruskah yang membawa mobil itu pergi karena Ibu tak datang?
Malam pulang pagi datang, malam kembali pagi menghampiri, tapi Ibu tetap tak kembali. Satu hari, dua hari, hingga satu minggu Ibu tak datang, tak pulang menjemput mimpiku, dia menghilang seperti Ibuku. Lapar, haus tak menjadikanku tersiksa. Pantai? Ia telah terkubur dalam, karena yang kuingin saat ini hanyalah ibu kembali ke pelukanku. Ibuku harus pulang! “Bu.. dimanakah Ibu sekarang? Pulang lah untuk putrimu, Bu. Aku tak akan membiarkan kau pergi bersama Om-om berdasi itu lagi” Air mataku entah yang keberapa ribunya menetes hingga membekas kusam di pinggiran bantalku. AKU HANYA INGIN IBU PULANG!!!
Apa yang terjadi dengan hatiku
Ku masih disini menunggu pagi
Seakan letih tak menggangguku
Ku masih terjaga menunggu pagi
Entah,
Kapan,
Malam,
Berhenti,
Aku masih menunggu pagi

                                            Piterpan


0 Response to "Menunggu Ibu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel