Optimalisasi Literasi Mahasiswa Melalui Kajian Ormawa Berbasis Buzz Group Discussion



Oleh : *Firiatul Laili

“Kita selalu menaksir terlalu tinggi perubahan yang akan terjadi dalam 2 tahun ke depan dan meremehkan perubahan yang dapat terjadi dalam 10 tahun kedepan. Jangan biarkan diri anda terbuai dalam kelambanan” Bill Gates.

 Sejak kehadiran generasi milenial yang pada tahun 2017 sudah mencapai 81 juta dari penduduk Indonesia, akhir-akhir ini kampus menjadi tempat mahasiswa milenial berlalu lalang mengintari lorong kampus. Cukup dengan gadget yang digenggam erat, tas dan baju model kekinian, sudah membuat mereka asyik bercengkrama dengan teman segerombolannya. Cengkrama yang kurang berfaedah menjadikan kampus yang selama ini berfungsi sebagai tempat pengembangan kompetensi di bidang literasi, khususnya aktivitas membaca dan menulis (Yulianto, 2015) secara perlahan mulai tersisihkan. Padahal jika dilihat  lebih detail lagi, masih banyak elemen yang dapat mengembangkan literasi mahasiswa, namun sampai saat ini masih belum terlihat jelas andil di dalamnya.

  Kesibukan dengan gadget tidak hanya menyibukkan mahasiswa untuk sekedar aktif di media sosial, tapi tidak jarang kita juga menjumpai beberapa mahasiswa yang menjadi candu akan kehadiran game online. Dari 4.504 jumlah perguruan tinggi di Indonesia (Ristek Dikti, 2017) tidak sedikit mahasiswa yang kecanduan media sosial dan game online. Menyedihkan bukan? Kampus yang selama ini menjadi tempat mahasiswa mengembangkan daya nalarnya, semenjak kehadiran media sosial dan game online justru menjadi sarang mahasiswa milenial yang kurang peka terhadap lingkungan dan sibuk dengan gadgetnya.

 Membuminya media sosial bagi mahasiswa memang menjadi satu keberuntungan bagi Indonesia, karena warga Indonesia dapat dikatakan sudah melek teknologi. Akan tetapi jangan berbangga dulu, melek teknologi bagi warga Indonesia khususnya mahasiswa, juga menjadi satu kebuntungan bagi Indonesia. Mengapa demikian? Kesibukan dengan bermedia membuat mahasiswa dan generasi milenial lainnya merosot dalam dunia literasi. Sehingga menjadi kabar yang sangat miris dan memalukan ketika Central Connectitut State University (CCSU) melakukan survei yang bertajuk Worlds Most Literate Nations pada tahun 2016 lalu. Dalam survei menyatakan tingkat budaya literasi Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara, satu tingkat di atas Bostnawa (detik.com, 2019).

 melihat aktivitas kampus akhir-akhir ini, taman baca di area kampus sudah jarang menjadi tempat mahasiswa duduk dengan buku terbuka di tangannya atau sekedar berdiskusi kecil, tapi justru menjadi tempat mahasiswa untuk sekedar bergosip ria. Bahkan tidak jarang taman baca kampus beralih fungsi menjadi tempat pendaftaran kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh organisasi-organisasi mahasiswa.

 Mirisnya budaya literasi di kampus dapat kita contohkan ketika ada pendistribusian majalah gratis di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura oleh Unit Kegiatan Khusus (UKK) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Activita Oktober 2018 lalu. Dari 3000-an eksemplar majalah yang siap didistribusikan, hanya sekitar 2000-an eksemplar yang berhasil didistribusikan kepada mahasiswa (Umarul Faruk, Pimpinan Umum UKK LPM Activita). Jumlah ini tidak sebanding dengan total mahasiswa IAIN Madura yang jumlahnya 7000-an, sedangkan majalah yang terdistribusi tidak sampai separuh dari jumlah mahasiswa IAIN Madura.

Krisis budaya literasi di kalangan pelajar khususnya mahasiswa, memberikan efek terhadap program Pendidikan Penguatan Karakter (PPK) dan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang digalakkan oleh Kemendikbud sejak tahun 2016. Pasalnya, sampai pertengahan tahun 2019 program tersebut belum dirasakan dampaknya oleh sebagian besar warga Indonesia. Sehingga adanya program tersebut hanya menjadi program seremonial yang dibuat oleh pemerintah. Oleh sebab itu, untuk menerapkan program tersebut di dunia perkuliahan, organisasi mahasiswa (ormawa) perlu mengambil langkah untuk menguatkan kembali fungsi  mahasiswa sebagai agent of change yang aktif, kreatif, inovatif dan berintelektual.

Selama ini ormawa diyakini sebagai wadah bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensinya. Seperti yang kita ketahui banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh ormawa kampus dalam menggembleng kadernya. Oleh karena itu, sebagai organisasi yang lebih dulu eksis dibandingkan dengan mahasiswa milenial, ormawa juga harus memiliki daya tarik lebih bagi mahasiswa dalam mengembangkan budaya literasi di dunia perkuliahan.

Literasi tidak harus selalu dalam bentuk kegiatan membaca dan menulis, akan tetapi juga ada tindakan-tindakan lain yang bisa dilakukan untuk mengembangkannya. Pengembangan literasi juga dapat dilakukan sejumlah ormawa melalui kegiatan diskusi atau kajian dengan sesama mahasiswa. Melakukan kegiatan diskusi tidak perlu banyak orang, cukup dengan buzz group discussion pengembangan literasi dapat terjadi dengan baik.

Hampir setiap sore kita melihat di beberapa area dalam kampus terdapat kajian-kajian yang dilakukan oleh beberapa ormawa kampus. Meskipun demikian, kajian yang dilakukan ormawa tersebut tidak mungkin membuat semua peserta diskusi aktif 100%, akan ada beberapa orang yang menjadi pendengar pasif tanpa mengutarakan pendapatnya. Oleh sebab itu, adanya buzz group discussion yang diterapkan oleh ormawa dalam kajian dapat membuat peserta kajian aktif secara menyeluruh.

Buzz group disscussion (Roestiyah, 2009) merupakan suatu kelompok besar yang dibagi dalam beberapa kelompok kecil dan jika perlu hasil diskusinya dilaporkan atau didiskusikan dalam kelompok besar. Dalam dunia perkuliahan, penerapan metode ini dapat dinilai positif, karena memberikan pelajaran kepada mahasiswa untuk bertanggung jawab dan memperkuat kerjasama (Hasibuan, 2004).

Dalam penerapannya pengurus atau senior ormawa dapat membagi peserta kajian dalam beberapa kelompok kecil dan didampingi pada masing-masing kelompok. Sebelum pembagian kelompok, harus ada topik tertentu yang akan dibahas dan dipecahkan oleh masing-masing kelompok yang tidak menyimpang dari tema besar kajian. Dengan demikian, tiap-tiap kelompok akan berinteraksi aktif dalam membahas dan memecahkan topik dalam waktu tertentu. Perlu kita ketahui, metode ini tidak perlu dilakukan dalam waktu yang lama, karena setelah buzz group discussion selesai, maka hasilnya kembali didiskusikan dalam kelompok yang berskala lebih besar.

Pada dasarnya, pembahasan dalam buzz group discussion tidak harus selalu berbasis masalah atau topik yang harus dipecahkan, akan tetapi juga bisa berupa buku atau materi yang telah dibaca sebelumnya kemudian dibedah bersama anggota kelompoknya. Dengan demikian, semua anggota kelompok dapat mengetahui dan mengembangkan daya nalarnya. Pasalnya, sebelum berlayar dalam dunia tulisan, kita harus mematangkan daya nalar atau intelektual. Sehingga hasil pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan lebih berkesan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Suroso (2007) yang mengatakan, kemampuan seseorang dalam berbahasa tulis juga dipengaruhi kemampuan bernalarnya.

Selain bermanfaat dalam pematangan kemampuan berpikir dan bernalar, buzz group discussion juga melatih kemampuan public speaking mahasiswa. Hampir setiap saat kita menemukan mahasiswa yang enggan untuk bicara dalam forum dengan alasan malu, takut salah, dan alasan-alasan lainnya. Dengan penerapan metode ini, public speaking mahasiswa secara spontan akan dilatih.

Sejenak menoleh pada sejarah, bagaimana Stave Jobs pemilik perusahaan Apple yang dinilai mampu menginspirasi pemuda-pemuda di negaranya dengan presentasi yang dibawakannya. Oleh sebab itu, kuat dugaan bahwa perusahaan Apple maju dan produknya laris dipasaran, karena kemampuannya dalam presentasi (public speaking). Disisi lain, coba kita lihat pada tokoh feminisme Indonesia, RA. Kartini. Selain kegemarannya dalam membaca dan menulis surat pada sahabat-sahabatnya, RA. Kartini juga memiliki keberanian yang tentunya diikuti dengan kemampuan public speaking-nya untuk meyakinkan perempuan-perempuan pribumi dalam menempuh pendidikan.

Meskipun penerapan buzz group dizcussion sering kali mendapat hasil yang kurang memuaskan bagi anggota organisasi dan peserta, lantaran terbatasnya waktu, gugup dalam menyampaikan pendapat, dan kurang menguasai terhadap topik pembahasan. Namun, segenap pengurus atau senior ormawa dapat mengatasi hal tersebut dengan cara menyiapkan topik pembahasan sebelum diskusi dilaksanakan dan melatih public speaking kader-kadernya setiap saat atau kajian berlangsung. Sedangkan bagi anggota atau peserta kajian, hambatan tersebut dapat diatasi dengan cara memperbanyak referensi dengan cara membaca buku dan menghilangkan rasa grogi saat diskusi berlangsung.

Kampus hebat bukan kampus yang memiliki gedung-gedung pencakar langit. Bukan pula memiliki banyak mahasiswa dan lahan luas. Akan tetapi kampus hebat adalah kampus yang mampu melahirkan mahasiswa dan sarjana-sarjana yang memiliki daya saing global. Sebelum minim literasi membudaya dalam diri semua mahasiswa di seluruh kampus Indonesia, maka ormawa yang selama ini berperan sebagai wadah bagi mahasiswa kampus perlu mengambil langkah cepat untuk mengatasinya. Buzz group discussion menjadi langkah awal ormawa untuk membangkitkan literasi mahasiswa. Metode ini akan melatih mahasiswa dalam public speaking dan daya nalar mahasiswa yang harus dilalui dengan memperbanyak referensi (membaca buku).


*Biografi Penulis  :

 Lahir Pamekasan pada 01 Februari 1998. Saat ini sedang menempuh pendidikan Strata 1 semester 4 dalam Program Studi (Prodi) Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (TIPS) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura. Penulis juga aktif di beberapa organisasi mahasiswa, seperti Himpunan Mahasiswa (Hima) Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (TIPS), Unit Kegiatan Khusus (UKK) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Activita dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pengembangan Intelektual dan Riset (PI & Riset). No HP/ WA 082335642587. E-Mail fitriatulkarismalaili@gmail.com.

0 Response to "Optimalisasi Literasi Mahasiswa Melalui Kajian Ormawa Berbasis Buzz Group Discussion"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel