Hal Sekecil Apapun, Apakah Menentukan Kesiapan IAIN Madura?


Tidak begitu terasa asing bukan bagi kalangan mahasiswa di Pamekasan, apabila mendengar nama “IAIN Madura”? Kampus itu merupakan Fakultas Tarbiyah Cabang Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya yang sekarang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Surabaya. Pada tahun 1997, Fakultas tersebut beralih menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan yang sekarang telah menjadi IAIN Madura.

Tepatnya, pada tanggal 7 April 2018, isu-isu yang sempat beredar di kalangan mahasiswa IAIN Madura tentang benar tidaknya peralihan status tersebut sudah tidak menjadi tanda tanya lagi, apalagi bagi calon-calon mahasiswa baru pada saa iu. Hal itu dibuktikan dengan penandatanganan trasformasi STAIN Pamekasan menjadi IAIN Madura oleh Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo. Tertuang dalam Peraturan Presiden RI nomor 28 tahun 2018 tentang IAIN Madura.

Dengan penandatangan tersebut, saya pikir prosesnya sudah final. Seluruh aset dan yang ada di dalamnya sudah atas nama IAIN Madura. Akan tetapi, saat pengisian Kartu Rencana Studi (KRS)-an kemarin, saya sedikit terkejut karena domain website IAIN Madura masih atas nama STAIN Pamekasan, www.stainpamekasan.ac.id. Padahal sudah beberapa bulan yang lalu peralihan itu terjadi. Kenapa masih belum berubah? Bagaimana terkait kesiapan peralihan status tersebut? Sehingga hal sekecil itu saja bisa terlupakan.

Mungkin hal iu bukan terlupakan. Entahlah, aku masih belum bisa memprediksinya atau mungkin bisa jadi prediksiku salah. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sempat timbul dalam benak saya, atau mungkin mahasiswa yang lain juga. Kiranya terdapat dua kemungkinan mengapa hal itu terjadi. Kemngkinan Pertama, telat membeli nama domain baru, sehingga kesiapan untuk menyandang status IAIN Madura secara keseluruhan masih terlihat kurang. Kedua, tidak mampu membeli domain baru. Bukanlah suatu hal yang masuk akal bagi saya,  jika IAIN Madura tidak mampu membelinya. Bukannya mahasiswa IAIN Madura tidak berjumlah sedikit? Dengan jumlah yang hampir sepuluh ribu.

Diantara mahasiswa yang jumlah hampir sepuluh ribu tersebut, setiap Pembayaran Uang Kuliah Tuanggal (UKT) mahasiswa sekitar 400-1 juta. Apalagi bertambahnya mahasiswa baru dengan UKT yang semakin mahal pula. Pembayaran UKT satu mahasiswa saja sudah mampu membeli domain baru. Bagaimana tidak? Hanya membutuhkan 300 ribu rupiah untuk merubah domain tersebut yang berlangsung selama satu tahun kedepan. Sehingga IAIN Madura tidak menggunakan domain dengan nama STAIN Pamekasan lagi.

Namun lain lagi, jika keterlambatan perubahan domain berlangsung lama, apakah IAIN Madura masih tetap menggunakan nama IAIN Madura sebagai namanya? Seperti www.iainmadura.ac.id mungkin, atau ada penambahan nama sebagai embel-embel di belakangnya. Karena dikhawatirkan domain yang mengatasnamakan IAIN Madura sudah ada yang membelinya terlebih dahulu. Hal ini bisa terjadi sewaktu-waktu.Untuk lebih memantapkan kampus ini, alangkah lebih baiknya jika hal sekecil ini tidak tertinggal.

Jika IAIN Madura benar-benar siap menyandang nama itu, maka hal sekecil ini tentunya sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Seperti Perguruan Tinggi yang lain yang beralih status menjadi IAIN pada waktu yang bersamaan kemarin, yaitu IAIN Kediri yang sudah mengganti domainnya menjadi https://iainkediri.ac.id dan Perguruan Tinggi lainnya yang telah berubah. Lalu, apakah IAIN Madura benar-benar siap menyandang status itu secara keseluruhan? Serta bagaimana kedepannya?. (Nurdiana Bilkish)

1 Response to "Hal Sekecil Apapun, Apakah Menentukan Kesiapan IAIN Madura?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel