Iqmal_Design
Iqmal_Design
Iqmal_Design

Rekam Perjuangan Mahasiswa dan Matinya Gerakan

Mahasiwa
Mungkin saja, saat ini rakyat Indonesia lupa. Mungkin saja telah hilang harapan terhadap mahasiswa. Mungkin saja para sesepuh gerakan mahasiswa kecewa, bahwa mereka benar-benar sudah lupa, dahulu mahasiswa telah berhasil mencatatkan rekor yang tidak sia-sia, bahwa masyarkat percaya perjuangan mahasiswa memberikan dampak yang nyata. Sayang sekali, kepercayaan itu tidak mau bertahan lama. Melihat seperti ini, sesepuh gerakan mahasiswa hanya bisa senyum tatkala mereka masih hidup. Andaikan masih hidup, mungkin saja mereka tidak rela wujud mahasiswa berada pada kondisi yang seperti ini.

Apa yang menyebabkan gerakan mahasiswa menjadi seperti ini? Saya tidak akan menjawabnya lebih awal. Karena bisa saja, semua orang memiliki pandangan yang sama, atau sebaliknya. Tapi yang pasti, gerakan mahasiswa tidak hanya sebuah gerakan yang perpindah dari tempat ke suatu tempat yang lain. Gerakan mahasiswa nampak pada tidakan yang rela sebagai wakil dari kesengsasaraan rakyat. Rakyat menjadi tahu, tidak akan mungkin keadaan yang diharapkan menjadi berubah tanpa adanya mahasiswa, dengan begitu rakyat itu yakin harapan perubahan nyata pasti ada[1].
Pada awal penulisan opini ini, saya sempat memiliki keyakinan,bahwa para sesepuh gerakan mahasiswa dapat senyum seumringah, karena mereka beranggapan harapan tantang perjuangan-perjuangan yang dicetuskan melalui metodologi seperti demonstrasi dahulu, akan terulang kembali. Gerakan yang tidak hanya bergerak di tempat, namun memiliki konsepsi-konsepsi yang berbeda dan terkontrol dengan baik.
Sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia
Lahirlah banyak sejarah Indonesia yang tidak dapat kita lupakan. Sejarah-sejarah itu melengkapi peristiwa-pristiwa dan perjuangan pemuda dahulu. Mulai pra kemerdekaan sampai pada orde reformasi. Sejarah itu yang mengalami banyak perbedaan. Dari coraknya, dari kehidupan dan keadaannya, dan dari tujuan dan cita-cita yang dikehendaki pasca perjuangan tersebut.
Periodeisasi perjuangan-perjuangan pemuda Indonesia bermacam, kita bisa mulai dari periode atau angkatan 1908 yang dapat jumpai dengan nasionalisme yang tinggi dari pemuda-pemuda pada saat itu[2]. Periode ini mulai dengan ditandai dengan berdirinya Budi Utomo. Ditahun ini pemikiran-pemikiran barat diadopsi oleh pemuda-pemuda yang memiliki keinginan agar dapat berpikir dengan kritis dan idealis.
Selanjutnya generasi muda berlangsung dengan dibentuknya kongres pemuda pada bulan Oktober 1928. Kongres ini membawa tujuan yang sampai sekarang masih banyak mengenang. Bahkan cita-cita pengakuan terhadap negara masih saja digemakan sebagai tanda semangat akan perjuangan. Tiga hal pengakuan dalam kongres tersebut; 1) satu tanah air; Indonesia, 2) satu bangsa; Indonesia, 3) Satu bahasa; Indonesia.
Berikutnya, proklamasi 1945. Dimana pada tahun ini ditandai dengan para pejuang dan pahlawan yang berada di medan perang. Mereka berjuang melawan kolonial yang ingin menguasai wilayah Indonesia. Periode ’45 adalah semangat perjuangan penegakan hak-hak setiap orang, yang sama ingin menjauhkan diri dari bentuk penjajahan. Periode ’45 menjadi bagian terpenting dalam sejarah Indonesia. Melalui pengakuan beberapa negara bahwa Indonesia adalah sebagai salah satu negara. pengakuan ini tidak terlepas pada perjuangan-perjuangan pemuda kesatuan yang memiliki kesamaan dan tujuan.
Tidak lama kemudian, sekitar 10 tahun berjalan, terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap pemerintah rezim Soekarno yang ditandai dengan tiga tuntutan mahasiswa.  Atau yang dikenal dengan Tritura (Tri tuntutan rakyat). Semua mahasiswa turun kejalan dan bahkan ada yang mogok kuliah. Mereka memiliki 3 tuntutan yang diajukan kepada pemerintah rezim orde lama. 1. Pembubaran PKI sekarang juga, 2. Ritul Kabinet Dwikora dari menteri-menteri goblok dan gestapu, 3. Cabut peraturan-peraturan yang menyulitkan hidup rakyat. [3]
Kemuakan mahasiswa terhadap rezim orde lama terus saja berlangsung. Ketika harga barang tidak stabil, mengalami pertumbuhan ekonomi yang tidak stabil, dan rakyat yang menjadi objek kesengsaraannya. Keadaan yang tidak stabil ini mendorong mahasiswa mencetuskan agar presiden Soekarno berhenti dari kekuasaanya. Melalui patnesrship[4] antara organisasi-organisasi mahasiswa dan Tentara, rezim orde lama tumbang ditangan mahasiswa. Tercetuslah orde atau sistem setelah orde lama yaitu orde batu, atau antitesis dari orde lama.
Lahirlah orde baru hasil kembang biak dari orde lama, atau hasil antitesa dari rezim orde lama. Rezim ini menjadi keberhasilan dan sekaligus harapan baru bagi semua rakyat indonesia. Begitu juga mahsiswa. Pemerintahan rezim ini dipimipin oleh Soeharto yang dipercaya akan mempu membawa Indonesia yang lebih stabil. Pertumbuhan ekonomi yang makin cepat. Namun ada insiden yang juga cukup besar terjadi. Pada tahun 1974 terjadi malapetaka sebelas januari atau lebih dikenal dengan Malari (Malapetaka lima Belas Januari) merupakan suatu gerakan mahasiswa yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah terkait kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional. Pada saat terjadi demonstasi yang dilakukan oleh mahasiswa berujung pada represifitas pemerintahan orde baru[5].
Catatan akhir dari penulis, sekilas tentang sejarah adalah aksi mahasiswa tahun 1998 untuk menegakkan reformasi dan rezim orde baru tumbang di tangan mahasiswa. Terjadi demonstasi-demonstrasi besar-besaran pada waktu. Namun tidak kalah pada tindakan-tindakan represif yang dilakaukan oleh militer terhadap mahasiswa. Rezim orde baru tumbang, munculah sistem baru, atau yang lebih dikenal dengan zaman reformasi.
Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi
Pasca reformasi, gerakan mahasiswa seperti senyap dan tak dikenal lagi bagi rakyat. Gerakan mahasiswa hanya dijadikan nyanyian-nyanyian syahdu diberbagai majalah, artikel, karikatur-karikatur yang memuat tentang sejarah gerakan mahasiswa. Semua itu nyanyian saja. Gerakan mahasiswa saat ini sepertinya sudah hilang dari ghirohnya. Mahasiswa sudah semakin remaja, namun pemikirannya masih belum ditata. Mereka sibuk dalam urusan akademik, dan tidak memperhatikan polemik di luar.
Pernyataan ini mungkin saja salah, atau memang ada hal lain yang mendorong mahasiswa menjadi demikian berubah. Kini gerakan mahasiswa mengalami perkemebangbiakan. Lahir pada masa kekinian. Catatan gerakan mahasiswa dan petuah-petuah tempo duluhu hanya menjadi perabot karat yang dimasukkan ke gudang tempat penyimpanan. Dan terlupakan. Mahasiswa kini disibukkan pada urusanpribadi. Gerakan mahasiswa menjadi lamban seperti tak punya daya lagi. Aturan-aturan kampus diperketat agar mahasiswa dapat diatur dan rapi. Bahan ajar mahasiswa dipersiapkan didalam kurikulum agar nalar otaknya sama. Suasana kampus dibuat menarik seperti taman bunga yang bersih dan damai. Mereka pun enggan berlebur dan bersosial lantaran ke-enak-an di ruang kampus perkuliahan.
Lahirnya NKK/BKK[6] yang dibuat oleh pemerintah orde baru, mahasiswa dituntut mengurusi kampusnya sendiri. Melalui lembaga-lembaga yang menaungi semua kegiatan di kampus, mengurusi event-event atau kompetensi-kompetensi agar mahasiswa dapat terltih dan bisa bicara didepan publik. Pada akhirnya, mahasiswa dapat menjuarai kompetensi tersebut dengan mengangkat deretan piagam juara. Petanda kampus telah sukses mendidik anak didiknya mencapai tujuan itu. Padahal keinginan sebenarnya adalah agar kampus bisa dikenal banyak orang, pendaftar menjadi membludak dan dengan tarif biaya yang relatif mahal dan kampus mendapatkan laba yang sebesar-besarnya. Sedang siswa miskin yang ingin melanjutkan pendidikan lanjut, tidak mampu sedang masyarakat terlampau ketergantungan pada lembaga pendidikan yang mereka anggap adalah satu-satunya tempat menggali ilmu.
Kehadiran 75% bagi mahasiswa aktif juga menghambat proses dialektika mahasiswa. Makin parah ketika kampus mengatur semuanya agar mahasiswa enggan lama-lama di organisasi. Bahkan para pelacur keyakinan mempropaganda mereka atau dalam istilah buku “Bangkitlah gerakan mahasiswa” disebut sebagai propaganda fasis. Para elit birokrat kampus mengklaim bahwa organisasi hanya membuat mahasiswa malas belajar. Nilai anjlok, dan masa depan akan semakin buram. Dibuatlah aturan bahwa mahasiswa yang masih ingin mengikuti organisaasi harus minimal semester 3 dan harus keluar ketika sampai pada semester 6/7. Pembatasan pada gerak mahasiswa sungguh nyata ada dibeberapa kampus. Bukan berarti belajar di kampus yang sampai siang malam tidak membuat mahasiswa berkembang. Namun, kapan bisa bersosial diri dan mengkritis polemik di lapangan.
Menurut buku “Bangkitlah Gerakan Mahasiswa” di mana mencantumkan pandangan Marx tentang: Alienasi dan Komoditikasi. Di mana mahasiswa mulai terasingkan dengan dunia sosialnya dan kampus menjadi tempat untuk akumulasi laba. Namun semua itu tidak terlepas dari kepentingan privatisasi kampus. Maka sangat wajar jika kampus tidak bakal menerima mahasiswa yang tidak berpunya, namun lebih mementingkan mereka yang pamer kekayaan, mereka yang elitis dan dibuatlah keyakinan bahwa masa depan akan cerah dan peluang kerja akan semakin luas. Ingat, peluang kerja semkain luas. Jadi otak mahasiswa, dicekoki dengan tawaran yang praktis, menjadi tukang kerja.[7]
Bahwa semua itu terhenyut melalui tawaran yang tak disadarkan. Yaitu diperankannya gelar sebagai komoditas. Gelar memiliki sifat nilai tukar dan nilai guna. Di mana gelar itu akan didapatkan jika sudah ada nilai tukar. Nilai tukar itulah dibentuk didunia pendidikan, alias seperti pasar sebagai tempat tukar menukar. Dunia pendidikan dijadikan sebagai ladang bisnis semata. Alhasil, nilai tukar dipasar pendidikan mencekik banyak mahasiswa yang tak punya biaya. Semua ini tidak terlepas dari kepentingan kekuasaan dan kepentingan perusahaan.
Adalah sebuah refleksi mengenai gerakan mahasiswa pasca peninggalan orde baru. Adalah sebuah kemenangan dan kemerdekaan setelah gejolak yang terjadi dan kebobrokan pemerintah pra reformasi. Di situlah, musuh-musuh mahasiswa yang banyak kalangan mahasiswa saat ini memandang, bahwa musuh saat itu nyata ada. Sekiranya dapat merefleksikan kembali kemenangan kita saat ini. Apakah kemenangan reformasi ini sudah sampai pada cita-cita akhir? atau kah mahasiswa sudah tidak punya tugas lagi sebagai pendorong perubahan? Tentunya kita sudah tahu, masih banyak para elit penguasa, para pemodal atau para kapital yang melakukan partnership dengan lembaga pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, dijadikan sebagai alat untuk menumpuk laba yang sebesarnya. Alhasil, biaya kuliah semakin tinggi. Mereka pun tidak merasakan para pemuda yang tidak berpunya, memiliki keinginan untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi.
Begitupun peraturan-peraturan yang dibuat oleh para birokrat kampus, yang dapat menghambat daya kritis mahasiswa. Ditambah lagi lembaga-lembaga kampus yang sudah berubah menjadi lembaga event dan tidak lagi mengkritisi persoalan pemerintah.
Di sinilah mahasiswa harus bergerak, mengkritisi, dan menilai secara objektif, mengenai musuh-musuh yang sebenarnya berada pada lubang yang tersebung. Namun dampakanya begitu menghimpit pemuda dan masyarakat secara halus. — (Ahmadal Huffazh)


REFENSI
[1] Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Hal. 130, LP3ES.
[2] Raillon, Francois, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974, Hal. 03, LP3ES
[3] Soe Hok Gie, Zaman Peralihan, Hal. 7, Gagas Media
[4] Raillon, Francois, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesi, Hal. 121, LP3ES.
[5] Merdeka.com, Malari, Perlawan Terhebat Pertama terhadap OrdeBaru
[6] Gerakan Mahasiswa dan kebijakan NKK/BKK, diakses pada pukul 13.00, disitus E-Jurnal Unesa.
[7] Prasetyo, Eko, Bangkitlah gerakan mahasiswa, Hal. 125, Intrans Publishing.

0 Response to "Rekam Perjuangan Mahasiswa dan Matinya Gerakan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

 photo https://1.bp.blogspot.com/-ODdkKsb4Elw/XbZ_DAkBSgI/AAAAAAAAFMQ/rbYq6H9jL4UVH1j6Q65PpS-bFlm2X7spwCLcBGAsYHQ/s1600/DJTD.jpg

Iklan Tengah Artikel 2

 photo https://1.bp.blogspot.com/-oIFtxJ3n9fY/XcziHRYCVCI/AAAAAAAAFTc/K7c6AeumVGEJgJe3xNJSYDNu_5IbaxqRACLcBGAsYHQ/s1600/20191114_121035.jpg

Iklan Bawah Artikel