-->

“Ramadhan dan Ingatan di Dalamnya”

   


  Malam itu udara tiba-tiba dingin, tetesan air langit mulai membasahi batang pohon sebelah rumah, tercium bau tanah bercampur bau busuk menyengat hidung. Keduanya masih betah berlama-lama di dalam gubuk kecil beralaskan ilalang. 

Satu persatu kapal kecil nelayan mulai berdatangan, seperti itu pula harapan kedua manusia dalam gubuk tersebut, ada laki-laki yang menjadi belahan nafasnya, ada pahlawan terhebat yang teramat mereka rindukan. Senyum kecil mulai mengembang menghiasi ranumnya bibir perempuan disebalah anak kecil itu, air matanya tumpah bak genangan air hujan yang kini kian melanda.

  Laki-laki bertubuh kekar dan uban yang sedikit nampak, bukan karena factor usia melainkan  kerja keras dan beban fikiran sehingga membuat dirinya harus terlihat tua sebelum waktunya. Peluk hangat terasa saat keduanya menghampiri, berlarian seperti anak ayam yang baru menetas memeluk si induk.

  Ternyata laki-laki itu adalah suaminya sekaligus ayah dari anak kecil yang sedari tadi duduk menunggu. Panggilah Adli, pemuda desa sebelah yang juga ikut mencari ikan disepanjang luasnya air laut, pekerjaan yang sama sekali tidak mudah dan tidak semua orang bisa, dimana ia harus berani berkorban nyawa demi pundi rupiah untuk sesuap nasi.

  “Lusa aku harus berangkat lagi, pak Satwo menyuruh kami untuk menangkap ikan lebih banyak dari Minggu ini,” Ucap suami Sekar. Perempuan didepannya hanya bisa membuang nafas panjang, matanya kosong seperti hatinya sekarang ini.

  “Tenang saja, hanya dua minggu, dan hasilnya benar-benar lumayan, nanti hari kedua bulan Ramadhan aku akan pulang, aku janji,” Ucapnya lagi seolah menghibur hati istrinya itu.

Bulan Ramadhan akan segera datang dan Sekar memang harus punya uang lebih untuk nanti berbuka puasa, ditambah Ramadhan kali ini adalah puasa pertama anak gadisnya, ia harus memberikan yang terbaik selama satu bulan kedepan.

  Esoknya pak Adli disibukkan dengan segala persiapan untuk nanti malam, padahal sudah berapa kali istrinya melarang untuk tidak pergi, dikarenakan cuaca akhir-akhir ini tidak baik, tapi apalah daya bagi seorang Adli, nelayan yang memang sudah berpengalaman dengan pergantian cuaca tentunya menjadi hal biasa baginya, jadi tidak perlu ada ke khawatiran untuknya. Hujan sangat lebat dibulan ini, ombak di lautan juga kadang menjadi tantangan tersendiri bagi para nelayan, namun lihatlah, sampai hari ini Tuhan masih memberikan nafas sehingga bisa bertemu dan kembali dengan keluarga.

 Gadis kecil itu Nampak sangat sumringah dari tadi malam, kedatangan Ayahnya yang sudah satu minggu bertaruh hidup di lautan lepas membuat dirinya sangat merindukan pelukan seorang Ayah. Ya, mereka bercerita tentang hidupnya masing-masing, dimana Ayahnya bercerita tentang kehidupan sebagai nelayan, tidak ada penginapan seperti hotel yang bisa ia tempati, tidak ada selimut yang bisa ia pakai saat dinginnya udara laut merasuk ke sendi-sendi tubuhnya, makan dengan bahan-bahan seadanya dan dimana saja, itulah kehidupan Ayahnya, demi menghidupi keluarga ia justru jauh dari kehidupan yang sebenarnya. Bukan hanya sekedar bercerita, justru ada banyak pelajaran yang harus diresapi oleh anak gadis itu, setidaknya kelak ia akan menjadi orang hebat yang membanggakan keluarga, mengangkat harkat dan martabat kedua orang tuanya.

   Lagi-lagi Adli harus meninggalkan kedua perempuan itu demi pekerjaannya, sedih rasanya melihat keluarga kecil yang harus terpisah seperti itu, apalagi untuk anak seumuran Rara yang memang sangat butuh kasih sayang dari seorang ayah.

 Lambaian tangan itu kembali ia lihat, dua minggu bukan waktu yang sebentar bagi Adli meninggalkan keluarganya, meski begitu, senyuman tetap terhias sepanjang paruh lautan, ada luka dalam hatinya yang tidak bisa ia ceritakan kecuali pada Tuhan. 

Janji tetaplah janji, ia tidak bisa membalas senyum manis suaminya saat malam itu, hangatnya kopi ditambah obrolan hangat dari Adli yang masih diingat sampai hari ini, kadang perempuan paruh baya itu harus menangis dalam diam, ketika hatinya mulai merindukan pria yang dicintainya itu.

                                                                          *******

 Gadis kecil itu masih bersandar pada tembok rumahnya, memainkan jemari, tatapannya tak ada arti. Anak sekecil dirinya harus menjadi beban keluarga, fikirannya berkecamuk antara memikirkan sang ayah atau masa depan, ada rasa takut yang menghantam dinding pertahanannya, bagaimana jika suatu kelak gadis itu tidak bisa menjadi harapan besar bagi sang ayah.

  “Sudah maghrib, shalat yuk Ra,” Ajak Sekar, ibu kandung Rara. Mengajarkan hal baik bagi seorang anak adalah kewajiban, termasuk salah satunya adalah shalat, Rara gadis kecil yang sekarang ini banyak doa-doa yang sudah ia hafal, bukankah Sekar adalah sosok ibu yang baik.

  Satu hari lagi Ramadhan akan mengisi kekosongan hati, malam ini adalah malam pertama kalinya Rara merasakan nikmatnya sahur, meskipun tanpa seorang ayah. Ya, ingatan itu muncul kembali, bagaimana seorang Ayah dari Rara menyantap sahur dengan nyaman, bagaimana bisa berpuasa dengan nyaman.

   Meski di bulan yang baik ini, doanya kepada sang ayah tetaplah menjadi pilihan utama seperti di bulan-bulan sebelumnya, apalagi melihat senyumnya dan memastikan ia kembali dengan sehat kedalam dekapan keluarga.

Dua minggu yang ia janjikan haruslah ditepati. Besok keduanya kembali menyambut pelukan hangat seorang pahlawan bagi mereka, hari ke-2 Ramadhan akan menjadi hal penting hingga hari Raya tiba nanti.

  Malam itu Sekar dikagetkan dengan suara gedoran pintu tengah malam, Rara yang tadinya terlelap dipelukan sang Ibu harus terbagun hanya karena suara rusuh dari luar rumah. Bu RT dan beberapa tetangga lainnya juga ikut berkerumun. Perasaan campur aduk bagi Sekar, dimana Rara masih melekat erat digendongannya.

Benar rupanya, bukan kabar baik yang mereka bawa, tapi sebaliknya, air matanya menetes mencium ubun-ubun si kecil Rara yang juga menjerit, mendengar kabar kapal sang suami oleng membuat dirinya menyesali keputusan telah mengizinkan Adli pergi melaut, lihatlah sekarang, berakibat suaminya pergi untuk selamanya yang bahkan jasadnya saja tidak tahu dimana. 

Sekar tidak berhenti memeluk putri kecilnya yang terus menjerit memanggil ayahnya di pinggir lautan, ini adalah hari ke tiga pencarian jasad para nelayan yang berangkat serombongan dengan Adli malam itu, beberapa diantara mereka sudah ada yang ditemukan dalam keadaan tewas dan mengenaskan, mungkin karena gigitan ikan di bawah laut, tapi sosok Adli Wahyudi, ayah dari Aurora sekaligus suami Sekar itu masih dalam proses pencarian, meskipun nantinya juga ditemukan, ia yakin suaminya itu juga sudah tiada. Melihat beberapa temannya yang sudah meninggal dalam keadaan jasad busuk.

 “Kenapa secepat itu Mas? Bukannya kamu sudah janji pada Rara akan pulang malam itu, kau tahu Rara sudah belajar berpuasa demi mendengr pujian dari mu?” Tangis haru Sekar masih pecah ketika melihat foto suaminya terpajang rapi di atas laci lemarinya, ada ingatan yang tidak semudah itu ia lenyapkan, ketika melihat Rara juga menangis memanggil bapaknya, saat itulah dunianya hancur berantakan, dimana ia harus mejadi obat bagi putrinya yang terluka dalam batinnya masih belum sembuh.

Oleh: Silfiyanti




                                                                         




0 Response to "“Ramadhan dan Ingatan di Dalamnya”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel