-->

KETIKA TUHAN MEMPERMUDAH




Berbagi bukan tentang seberapa besar dan seberapa berharganya hal yang kau beri, Namun seberapa tulus dan ikhlasnya apa yang kau beri.

Sebut saja Riko Adi Putra, seorang bocah berusia 10 tahun yang hidup di gubuk kecil seorang diri, orang tuanya sudah lama meninggal, bisa dibilang saat umur Riko masih balita, mereka kecelakaan saat hendak bepergian, Alhamdulillah ternyata anak kecil di gendongan perempuan paruh baya itu masih diberikan nafas hingga kini.
Hidup bahagia dengan keluarga kecil tentunya adalah harapan besar setiap orang, mempunyai orang tua yang lengkap juga dambaan setiap anak. Berbeda halnya dengan Riko, semenjak neneknya meninggal dunia satu tahun yang lalu, anak itu kini hidup luntang-lantung dijalanan tidak jelas.  
Riko memegangi perutnya, cacing diperutnya mungkin sudah menggigit lambung, ia meringis kesakitan sepanjang perjalanan. Kedua kakinya mulai lemas, keringatnya bercucuran membasahi wajahnya yang kian mengkilap. Entah sudah berapa  kali ia mengunjungi warung makan pinggir jalan, namun nihil, tidak ada yang berbelas kasih padanya walau hanya sesuap nasi putih.

"Dek, mau kemana?” Tanya seseorang dari belakang. Riko menoleh, mendapati seorang perempuan berbalut hijab coklat.
  “ Saya lapar buk, tapi masih mau cari uang,” Jawab Riko sembari menunduk. Wajahnya kusut, badannya sangat kurus dan seluruh tubuhnya tidak terawat persis seperti kucing liar.
  “ Yaudah coba saja ke warung itu, yang jual baik kok dek,” Ujar perempuan itu sambil menunjuk. Riko mengangguk dan bergegas ke warung tua itu.
Memang berbeda dengan warung yang sempat Riko datangi tadi, warung ini kelihatannya lebih sepi, meja-mejanya masih bersih sangat terlihat tidak ada pengunjung sejak tadi pagi.
  “Ibu saya mau beli nasi, tapi uangnya Cuma dua ribu lima ratus, boleh tidak?” Tanya Riko pelan, berharap kali ini Tuhan memberikan rezeki untuknya.
  “Bisa kok dek, tunggu sebentar ya.” Ucap si penjual nasi.
Riko mengusap wajahnya dengan kedua tangan, bentuk rasa syukur akhirnya bisa makan untuk hari ini.
Seperti pengunjung pada umumnya, riko duduk menunggu makanannya datang. Benar saja, pesanannya datang, lihat betapa ramah dan baiknya hati perempuan itu. Padahal Riko sendiri tahu seberapa mahal makanan di tempat ini.
Tanpa menunggu lama, Riko menyantap makanan di depannya, sungguh ini kali pertamanya ia merasakan makanan lezat dengan harga sangat murah. Tanpa ia sadari perempuan di belakang etalase itu tersenyum sembari menghapus air matanya, ada perasaan haru dalam hati, ada perasaan iba melihat anak sekecil Riko harus bontang-banting mencari makan.

Perempuan itu membungkus satu nasi lengkap dengan krupuk ikan didalamnya, ia tahu tidak mudah menjadi kuat seperti Riko yang tidak patah semangat walaupun tidak sedikit orang-orang mengusirnya.
  “Ini dimakan nanti malam ya nak, oh iya  besok kalau lapar kesini lagi, jangan malu ya,” Perempuan di depannya memberikan bungkusan nasi tadi, meski sempat ia tolak, akhirnya Riko mengangguk.
  “Terimakasih buk, semoga Allah membalas segala kebaikan ibu,” Kata Riko mencium telapak tangan perempuan baya itu.
Seperti pesan penjual nasi kemaren, Riko selalu datang setiap pagi, tidak lupa nasi bungkus untuk bekal ketika malam tiba, padahal dia sendiri tahu tidak banyak penghasilan yang perempuan itu dapatkan, bahkan akhir-akhir ini warungnya selalu sepi pengunjung.
Jika ditanya banyak tidaknya orang pintar mungkin jawabannya sangat banyak, jika ditanya banyak tidaknnya orang baik, jawabannya pun akan tetap sama, tapi jika ditanya ada tidaknya orang yang tulus hatinya maka jawabannya ada tetapi tidak banyak, dan perempuan itu membuktikan betapa masih ada orang-orang baik nan tulus di dunia ini.
     **********
Hari demi hari berlalu, tahun berganti tahun berhasil ia lewati. Riko si bocah kecil dan yatim piatu kini tumbuh dewasa, Riko kecil yang dulunya direndahkan, sering diusir karena bau, siapa sangka kini Tuhan memberikan kado terindah setelah dua puluh tahun lamanya melewati masa-masa sulit yang mungkin hanya sebagian orang mampu melewatinya. Lihatlah Riko Adi Putra sekarang, seorang direktur perusahaan megah dan ternama, ia menjadi bintang dan namanya terkenal diseluruh dunia, seorang pembisnis handal dan di segani perusahaan lainnya karena kejujuran dan kecerdasannya.
Memiliki mobil dan rumah mewah yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, semuanya semata-mata karena giatnya bekerja dan doa yang tiada henti ia panjatkan setiap menunaikan shalat.
  Suatu hari Riko duduk santai melihat berita viral di ponselnya, betapa terkejutnya ia saat melihat warung tua yang sudah dua puluh tahun ia tinggalkan, sekarang terpaksa digusur karena pajak yang tinggi.
“Warung yang sama,” Bisik Riko pelan.
Dengan sigap ia menyuruh beberapa asistennya untuk menjemput kedua penjaga warung yang berada jauh dari kota tempat ia tinggal saat ini, mungkin ini saatnya ia membalas budi kebaikan perempuan yang dulu pernah membantunya disaat susah.
  Riko Adi Putra seorang direktur yang pintar dan disiplin, kali ini ia sengaja tidak menghadiri meeting kantor dengan alasan menunggu tamu istimewanya datang.
  “ Permisi..,” Sapa seorang perempuan diikuti laki-laki tua dibelakangnya.
  “ Maaf, apa bapak yang memanggil kami?” Tanya perempuan itu. Suaranya masih sama, lembut dan penuh perhatian. Mungkin bedanya sekarang perempuan itu Nampak tua, wajahnya berkerut, tangannya tidak lagi selembut seperti dua puluh tahun lalu.

Air matanya menggenang di pelupuk mata, keduanya sama sekali tidak mengenali siapa laki-laki di depannya.
  “Ibuk, saya lapar, mau beli nasi tapi Cuma punya uang dua ribu lima ratus, apa boleh?” Ucap laki laki yang berpakaian rapi.
Sedetik kemudian perempuan itu ingat siapa laki-laki gagah dihadapannya, siapa lagi kalau bukan bocah kecil yang setiap hari datang ke warung untuk membeli nasinya, ditambah sebungkus nasi gratis darinya.
  “ Ya Allah Riko, boleh ibu peluk,” Pinta perempuan itu. Tanpa menunggu persetujuan perempuan itu memeluk sembari mencium puncak kepala Riko, air matanya tak berhenti menetes betapa bahagianya Tuhan masih mengizinkan ia bertemu anak itu kembali.
   “Terimakasih ya buk, karena sebungkus nasi dari ibuk dan bapak akhirnya Riko bisa menjadi seperti sekarang ini,” Ujar Riko masih memeluk keduanya.
Kini ia bersyukur dan sedikit lega, Bapak ibu pemilik warung yang tergusur itu sekarang bisa mengelola kantin perusahaan dan besedia tinggal bersamanya, tiap hari Riko bisa memakan masakan enak dan mengagumi ketulusan dan keramahan mereka.

Aku sadar, tak mungkin aku bisa melangkah tanpa bantuan orang lain, tanpa uluran tangan orang-orang yang tulus meringankan bebanku. Orang yang begitu baik memberikan nasi setiap hari, dengan sedikit uang yang aku punya tak mungkin bisa membeli. Aku menyesal kenapa dulu tak sempat untuk sekedar tahu siapa nama kedua orang tua itu, nama yang sangat ingin ku sebut dalam doa-doa. Sampai saat aku memberanikan diri untuk berjanji pada diriku sendiri, suatu saat aku akan bisa membalas kasih tulus mereka.

Silviyanti

0 Response to "KETIKA TUHAN MEMPERMUDAH"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel