-->

Malam yang Ranum

Penulis: Khoirotunnisa' (TBI/3)

 “Tling”

Mata Yunita nyinyir tertuju pada android hitam yang tengah berbaring tenang di samping laptopnya. Satu notifikasi berhasil memecah ribuan konsentrasi yang sejak tadi ia bangun. Bisa-bisanya ia lupa untuk menyenyapkan mesin lepeng iti, agar tak terganggu seperti pada malam-malam sebelumnya. Ia meregangkan lehernya dan memijat pelan pada pelipis. Sudah berjam-jam lamanya ia duduk berkutat dengan tumpukan buku dan mesin ketik canggih di hadapannya. Layar putih dengan ribuan tulisan membuatnya sakit mata dan kepala. Ia melirik pada ujung kanan bawah sisi laptopnya. Angka yang tertulis 17.30 WIB. Tadi pagi ia diburu banyak deadline, pun dengan malam ini. Sejak siang Yunita bersemedi di kamarnya hanya untuk menyelesaikan satu tugas yang entah mengapa tak kunjung selesai juga. Tugas satu selesai, tugas baru muncul bergantian. Layaknya rumput liar pada pematang panjang yang tak pernah terlihat gersang meski di musim kemarau. 

Yunita menyerah. Ia menyenderkan pundaknya seraya meraih handphone yang sejak tadi selalu berdering. Sebuah pesan tak sengaja ia baca.

“Yun, malam ini aku balik kost, ya.”

Yunita memicingkan mata sejenak. Ia membaca berulang kali pesan tersebut. Pesan dari nomor asing itu membuatnya penasaran. Pasalnya Yunita tidak tahu tuan dari nomor ponsel yang telah mengirimkannya banyak pesan.

“Kamu mau nitip oleh-oleh gak?”

Pesan-pesan lain pun mulai bermunculan. Yunita mengacuhkannya, namun rasa penasaran tak bisa ia tepis begitu saja. Siapa gerangan pemilik nomor tak tersimpan itu. Mengapa ia berlagak sangat akrab dengan Yunita. 

Sudah tiga minggu Yunita sendirian di kamar kost. Jian, teman satu kamarnya sedang pergi berlibur ke pantai. Tidak mungkin pesan yang Yunita terima adalah pesan dari Jian karna nomor Jian tersimpan di kontak Yunita dan Yunita tahu bahwa Jian akan kembali karna sebuah alasan. Yunita berniat untuk membalas pesan tersebut, namun entah mengapa ia sangat enggan. Akhirnya ia melemparkan ponselnya dan mengacuhkan banyak pesan yang muncul dari satu nomor yang sama.

Yunita berjalan sejenak. Ia menyingkap tirai kamar dan mendapati langit sudah merah memar. Jingga telah bertengger pada singgasananya. Sebentar lagi malam akan berkuasa dan Yunita masih harus melanjutkan pekerjaannya. Ia menghembuskan nafas panjang dan dalam. Sekelumit beban yang tengah menindih pundak dan otaknya sejenak terhempas sebelum semuanya kembali pada tempat semula.

Tiba-tiba handphone berdering. Kali ini nada dering panggilan yang berbunyi. Awalnya Yunita enggan menjawab panggilan itu, tetapi setelah melihat nama kontak yang tertera ia tiba-tiba berubah semangat.

“Halo. Iya, Kak?”

“Yunita?” 

“Iya, Kak, benar.” 

Rasa penat dan lelah yang mengeringkan tenggorokan Yunita tiba-tiba menjadi musim semi seketika setelah mendengar suara yang telah lama ia rindukan.

Agung. Pemilik suara itu tak sadar bahwa gadis yang menerima panggilannya saat ini sedang tersenyum sipu.

“Jian sudah ada kabar belum?”

Sayangnya, musim semi pada hati Yunita harus gugur dan kemarau seketika. Ketika mendengar nama Jian kembali dicari oleh pria idamannya itu.

“Belum, Kak.” Yunita menggigiti kukunya karna kesal 

“Oh. Baiklah. Kalau sudah ada kabar dari Jian tolong kabarin ya!”

“Baik, Kak.” Yunita menggeleng dan tersenyum masam.

Panggilan itu berakhir begitu saja. Ada rasa kesal dan jengkel yang mendalam di lubuk hati Yunita. Padahal dengan kepergian Jian, Yunita berharap Agung akan melupakan Jian dan mulai melirik pada Yunita. Namun dugaan Yunita salah. 

“Ting.”

Yunita dikagetkan oleh notifikasi pesan yang ternyata masih dari nomor asing tadi.

“Yunita, malam ini aku datang.”

Entah apa alasannya tiba-tiba Yunita sedikit bergidik seram. Meraba tengkuk lehernya dan menoleh kanan dan kiri. Matanya menyapu seisi kamar dan tak menemukan keanehan disana.Yunita segera bergegas menuju kamar mandi. Ia berniat untuk mengguyur sekujur tubuhnya dengan air sebelum ia kembali berpacu pada rasionalitas akademisi dan beradu cepat dengan waktu. 

Ketika hendak menutup pintu, dari ekor matanya ia menangkap seseorang tengah duduk di ujung kasur kamarnya. Sontak Yunita kembali membuka pintu kamar mandi dan tak mendapati siapa pun di sana. Ia kembali menutup pintu secara perlahan dan lagi-lagi matanya menatap hal yang sama. Pada titik di mana pintu kamar mandi hampir tertutup, sosok gadis yang duduk memunggungi Yunita terlihat sangat jelas. Sontak Yunita membuka kembali pintu kamar mandi lebar-lebar dan sosok tadi kembali menghilang. 

Yunita keluar dari kamar mandi dan mengecek keseluruh isi kamar. Tak ada seorang pun di sana kecuali dirinya. Yunita memejamkan mata sejenak dan mengusir semua pikiran keruh yang menyelimutinya. Ia berusaha memberanikan dan meyakinkan dirinya bahwa di kamar itu tidak ada siapa pun selain dirinya. Ia kembali menuju kamar mandi. Perlahan ia mulai meraih pintu kamar mandi dan hendak menutupnya secara perlahan. Pada titik di mana pintu akan segera tertutup, Yunita malah menangkap sebuah mata sedang mengintip tepat di hadapannya. Sontak ia menutup pintu kamar mandi dengan kuat. 

Pada degup jantung yang kian memburu, Yunita berusaha menyelipkan rasa tenang di sana, menitahkan dirinya agar tetap santai dan tidak takut. Ia memejamkan mata dan berusaha menepis apa yang baru saja ditangkap oleh kornea matanya. Ia berbisik pada pikirannya sendiri bahwa apa yang ia liat barusan adalah sebuah kesalahan. Itu hanya halusinasi akibat rasa lelahnya. Ya, Yunita berpikir demikian agar jantungnya yang ingin beranjak dari tempatnya kembali tenang.

Seperti yang biasa ia lakukan, Yunita memutar lagu untuk menemani dirinya mandi. Kali ini juga agar ia sedikit merasa tenang. Ketika alunan musik berputar, suara keriungan terdengar dari balik kamar mandi Yunita yang berarti keriungan tersebut berasal dari kamar tidurnya. Sejenak Yunita menjeda alunan musik dan suara keriungan tersebut seakan-akan juga terjeda. Hening, tak ada suara apapun yang tertangkap oleh gendang telinganya selain suara percikan air yang turun dari tubuhnya. 

Ketika menyalakan kembali musik di ponselnya, suara bising itu kembali terdengar. Akhirnya Yunita memilih untuk menambah volume ponselnya dan suara keriuangan itu seakan-akan juga bertambah keras. Yunita mempercepat gerakannya. Segera membuka pintu kamar mandi ketika ia telah tuntas dengan kegiatan mandinya. Apa yang ia temukan adalah kekosongan. Tak ada apa pun di sana, pun suara bising itu seakan-akan menghilang.

Ada sedikit rasa kesal di sana karena Yunita merasa dipermainkan. Akhirnya ia pun memilih untuk mengacuhkan apa pun yang terjadi pada malam itu. Ia menyumbat telinganya dengan earphone dan kembali bertapa di depan laptop. Otaknya ia penuhi dengan rumus dan tugas sebelum beralih pada hal yang tidak-tidak. 

Hingga pada malam yang kian larut. Yunita berhasil bertahan meski keringatnya terus mengalir tanpa henti. Bahkan ketika Yunita menangkap suara orang bernyanyi tepat di belakang punggungnya. Yunita tetap berusaha fokus pada laptopnya. Deadline tugas ini adalah esok pagi, tak mungkin Yunita tinggalkan hanya karena gangguan-gangguan tersebut. Dosen tidak akan percaya pada alasan yang akan ia berikan bahkan dosen tidak butuh alasan itu, dosen hanya butuh tugas Yunita terselesaikan. 

“Ting!”

Handphonenya kembali berdering. Padahal Yunita sudah sangat jelas ingat bahwa ia telah membisukannya beberapa menit yang lalu. Perlahan ia meraihnya dan mendapatkan pesan dari nomor yang masih sama. 

“Hai, Yunita.”

Tepat sedetik setelah membaca pesan tersebut, Yunita merasa ada yang tengah berdiri di belakangnya. Namun tubuhnya yang sudah sejak tadi gemetar dan berkeringat, tak berani menoleh.

“Aku di sini.”

Sebuah tawa lirih yang tertangkap di gendang telinganya, berhasil melucuti keberanian Yunita. Tubuhnya kian gemetar. Bahkan pada sebuah tangan yang seakan tengah memegangi kursi di mana Yunita bersila. 

“Kamar berantakan ya setelah aku pergi.”

“Siapa pun ....” Yunita bersuara dalam posisi mata yang terpejam. Ia berusaha membaca doa apa pun yang ia ingat, dalam hatinya. 

“Tolong pergi dari kamarku”

“Ini kamarku juga, Yunita. Ini kamar kita. Kamu lupa?”

Yunita bergidik melihat pesan yang sejak tadi terus bertambah. Seakan-akan pengirimnya sedang berada di kamar itu padahal Yunita sedang sendiri di sana.

Mulut Yunita komat-kamit. Ia berusaha mengucapkan semua doa yang ia hafal. Perlahan Yunita menoleh ke belakang, dan anehnya semua gangguan itu tiba-tiba hilang. Yunita tak menyia-nyiakan kondisi tersebut. Dalam hening yang sangat menenangkan baginya, Yunita segera bergegas menuju kasurnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya bahkan hingga wajahnya. Ia memejamkan mata dan tidak memedulikan laptop yang belum ia tutup.

Sekian menit Yunita terpejam namun ia tak kunjung bisa beralih ke dunia mimpi. Tiba-tiba ia mendengar suara ketikan dari laptopnya. Pun ia mendengar seseorang menyebut namanya.

“Yu-ni-ta.”

Tubuh Yunita kembali bergidik. Keringatnya sejak tadi tak kunjung berhenti mengalir. Bahkan selimut dan kasurnya mulai basah karena keringat Yunita. 

“Hei, Yun!” 

Sebuah tangan berhasil menepuk pelan kaki Yunita yang lolos dari selimut.

“Ini gue, Jian, kok takut sih?”

Tenggorokan Yunita seakan-akan tercekat mendengar perkataan tersebut. Yunita tak bisa berkutik. Air matanya tiba-tiba mengalir tanpa diaba-aba. Rasa takutnya telah sampai pada puncaknya. Yunita merasa mulai susah untuk menghirup nafas.

Tiba-tiba Jian tertawa. “Yun, lo takut sama gue?”

Yunita terus menangis. Tenggorokannya benar-benar kering dan deru nafasnya mulai tak terkendali. Hingga ketika tangan itu berhasil menarik selimut Yunita. Yunita berteriak sekencang-kencangnya. Sedang sosok yang menarik selimutnya semakin tertawa melengking. Tiba-tiba dua tangan biru dan dingin itu meraih leher Yunita dan mulai menekannya. 

“T..o-Tolo..ng.” 

Yunita berusaha teriak namun nihil. Tenggorokannya benar-benar tercekat dan dua tangan dingin itu semakin kuat mencekiknya. Hingga Yunita mulai kehilangan nafas dan pandangannya perlahan mulai kabur. 

“Yunita!”

Seseorang di balik pintu kamar kos mendengar jeritan Yunita. Sayangnya Yunita tak bisa mendengar suara itu bahkan pada pintu yang beberapa kali diketuk dengan keras. Karena suara Yunita mulai melirih, akhirnya Agung yang sejak tadi mengkhawatirkan kondisi Yunita, memilih mendobrak pintu kamar kos Yunita dan mendapati gadis itu tengah memegangi lehernya sendiri.

Ia menghampiri Yunita dan segera melepas tangan Yunita yang berusaha mencekik dirinya sendiri. Apa yang dilihat Agung tak sama dengan apa yang dilihat Yunita saat ini. Di mata Agung, Yunita sedang mencekik dirinya sendiri sedang di mata Yunita, Jian tengah mencekiknya dengan tangis yang sama-sama pecah antara keduanya.

“Hanya karena seorang pria kamu tega sama aku Yun. Aku sahabatmu. Aku sahabat yang sudah bersama kamu sejak tiga tahun yang lalu.”

Tangis Yunita tak bisa ia bendung. Ada rasa penyesalan yang tiba-tiba menggerogoti relung batinnya. Yunita memejamkannya. Ia mencoba pasrah pada keadaan. Bahkan pada Jian yang awalnya menatapnya penuh kebencian kini berubah menjadi tangis yang mengiris.

“Yunita!” 

Agung mengguncang keras tubuh Yunita dan akhirnya ia bangun dengan tangis dan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya.

Sontak Yunita memeluk Agung dan memintanya untuk mengantarkan ke kantor polisi. Yunita tak menghiraukan perkataan Agung yang berkali-kali bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Yunita tak menggubrisnya. Ia malah meraih syal coklatnya dan bergegas keluar kamar. Akhirnya Agung yang kebingungan dengan tingkah Yunita menuruti perintahnya dan mengantarkan gadis itu ke kantor polisi terdekat.

Sesampainya di sana. Yunita langsung menuju petugas dan duduk seraya menjulurkan kedua tangannya. 

“Ada yang bisa saya bantu?”

Agung yang membuntutinya dari belakang mengerutkan alis penuh tanda tanya.

Yunita memejamkan matanya sejenak dan menundukkan wajah. Dengan isak tangis yang terdengar, Yunita bertutur pada polisi yang bertugas.

“Mayat yang ditemukan mengapung di tepi pantai pada tiga minggu yang lalu adalah mayat sahabat saya, Pak”

Polisi juga Agung kaget mendengar pengakuan Yunita.

“Namanya Jian Ayunita. Meninggal karena luka tusukan di seluruh wajahnya, dan pelakunya adalah saya, Pak, Jian Ayunita.”

0 Response to "Malam yang Ranum"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel