-->

Dirimu, Tuhan dan 28 Mei

 Oleh: Nuril Izzah
 

Catatan singkat tentang dia 

Inilah aku, gadis belia yang dengan beraninya bermain cinta. Bahkan, aku merasa Tuhan terlalu baik hati ketika memutuskan untuk memberiku rasa itu. Dengan tanpa sadar, aku pun memilikinya. Mungkin kebanyakan orang mengatakan kalau pada masaku masih bukan saatnya untuk belajar mencintai. Namun bagiku, cinta bukan sekedar aksara yang bisa begitu saja dirangkai, bukan juga hal yang bisa diprediksi hadirnya. Tapi cinta adalah pemberian Sang Maha Cinta untuk hamba-hambanya. Dia menciptakan ruh yang tak kasat mata kemudian Ia tiupkan pada raga-raga yang masih berada dalam kehidupan yang menggantung. Ya. Pada sebuah dinding yang mereka sebut sebagai rumah kenangan, tepatnya pada rahim para perempuan.

Ya. Cinta adalah kenangan sekaligus pelajaran yang Tuhan ajarkan langsung padaku dan dia.

*** 

Tepat di sebuah pantai yang bernuansa senja. Dengan temaram merah yang seolah mengambang pada riak ombak yang bergerak manja dan lambaian daun nyiur yang mengikuti ritme angin, aku berdiri seorang diri. Sebenarnya, aku tidak sedang benar-benar sendiri. Ada banyak sisa suara yang menggema dan selalu ingin menghiburku.

“Sepertinya, aku akan mengganggumu…” sebuah suara yang diiringi dengan derap kaki tepat di sampingku. Suara yang terus menerus menyisakan kerinduan dan membuatku tergesa-gesa untuk segera mendiskusikannya bersama Tuhan. Suara yang selalu membuatku lupa kapan terakhir kali aku menangis karena tamparan tangan kehidupan.

Aku menoleh ke arahnya. Kutatap wajah itu. Sungguh sempurna dan indah kala siluet itu mengenai bola mataku. Gurat dewasa yang ia pancarkan tak pernah bisa membuatku berhenti mengaguminya. Bahkan ingin rasanya setiap detik kutitipkan padanya, membiarkannya berlalu bersama ribuan harap yang selalu kusemogakan. Aku mencintainya, berkali-kali tanpa mau berhenti.

“Aku tidak pernah merasa terganggu, Mas,” ucapku singkat yang kemudian beralih memandangi pantai. Perlahan matahari menenggelamkan separuh tubuh jingganya. Warna magenta mulai berpendar. Lampu-lampu jalan dan kunang-kunang mulai mengisi keheningan, seakan berkolaborasi untuk menyambut purnama yang sebentar lagi akan datang.

“Dik…” panggilnya setelah deburan ombak menghantam ujung jari kakiku.

“Iya, Mas?”

“Jangan pernah kau hitung berapa kali senja menyapa kita yang selalu bersama atau saat kita sedang merasakan jatuh cinta.” Kata-kata itu membuatku diam dengan banyak pertanyaan. Entah kenapa dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tak pernah kupikirkan. Sejenak, aku mengajaknya duduk pada hamparan pasir yang telanjang, membiarkan pergelangan kaki menyentuh bibir pantai dan jilatan ombak.

“Sayangnya, aku terlalu bodoh untuk tetap menghitungnya, Mas. Aku selalu saja menghitung sejak kapan kita sama-sama mengenal senja dan akhirnya jatuh cinta. Ah, kita persis seperti sebuah cerita. Pecinta senja yang saling jatuh cinta,” tuturku dengan seulas senyum yang masih belum bisa kupahami sendiri, kenapa aku tersenyum. Dia menunduk sejenak dengan satu tarikan nafas. Tidak terlalu berat kudengar. Mungkin karena hembus angin yang membuatku tidak terlalu mengamati liuk nafasnya. Kemudian, dia meraih pergelangan tanganku. Menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya yang masih sama. Telapak tangan yang masih menyimpan ribuan benih rasa indah dan selalu menenangkan. Matanya menatapku tajam dan itu membuat jantungku berdetak cepat. Yang ia lakukan persis seperti saat kali pertama air mataku mendapat usapan lembut dari dia. Semuanya masih sama dan tidak ada perubahan.

“Aku berkali-kali mencintaimu, sekalipun senja selalu berganti dan matahari tak pernah mau berdiam diri. Jangan ajari aku cara mencintai, sebab dirimu sudah cukup menjadi pelajaran sekaligus guru bagiku.”

Aku tersenyum mendengarnya. Dengan kebiasaan yang tak pernah berubah, aku mengelus dahinya yang perlahan dihinggapi anak rambut yang diterbangkan angin. Mungkin baginya tanganku tidak seperti tangan mereka yang usianya jauh lebih dewasa dariku. Tapi bagiku, tanganku sudah cukup bahagia ketika berhasil menyentuh cinta yang berceceran di wajahnya. Yah! Tuhan begitu banyak memberinya keindahan sampai aku sendiri tak mampu, bagaimana jika akhirnya dia harus pergi dan membiarkanku sendirian. Tanpa keindahannya. Ahh tentu saja akan sangat menyakitkan bahkan mati akan menjadi pilihan terbaik.

“Sampai detik ini, aku tidak pernah mengajarimu bagaimana cara untuk mencintai. Sungguh itu bukan hal yang seharusnya kau tahu. Sebab, kamu, mereka dan Tuhan sekali pun punya cara sendiri bagaimana cara mencintai. Jadi, tidak perlu ada yang diajari atau mengajari,” jawabku dengan senyum yang tak kalah manisnya dengan detik sebelumnya. Dia tersenyum puas. Senyumnya mengembang sempurna. Raut itu yang tak pernah kuharap perginya, sampai pada detik kelima ia menunduk lagi. Senyumnya surut perlahan.

“Ada apa, Mas? Apa kata-kataku ada yang salah?”

“Aku akan kembali ke kota. Doakan saja, semoga semua urusanku dipermudah dan aku akan segera kembali untukmu. Aku akan kembali bersama orang tuaku.” Kali ini dia mendongak. Kalimat itu langsung membuatku sesak. Seolah bumi tiba-tiba menyusut dan membuatku sulit bernapas. Langit-langit buram tanpa setitik cahaya. Bersamaan dengan itu air mataku mengalir. Perlahan meliuk-liuk di pipiku.

“Tolong jangan menangis, Dik. Aku tidak akan lama disana. Doakan –”

“Doa saja tidak cukup untuk membuat separuh ragamu menyapaku, Mas. Bagaimana caraku untuk bisa mencintaimu dengan jarak yang bermil-mil jauhnya?” sergahku cepat. Aku menangis. Dia segera menenggelamkanku ke dalam pelukannya. Tangannya mengelus pelan rambutku. Jujur saja, dalam dadaku ada sedikit kekecewaan. Kenapa harus ada jarak setelah cinta telah sempurna berada dalam genggaman dan siap untuk dibina? Sedangkan hati masih terlalu rentan untuk mengekang rindu yang tak pernah kenal waktu.

“Tatap mataku!” tangannya memegang kedua pipiku dengan pandangan yang seolah sedang menyalurkan kekuatan. Mata itu sangat jelas bahwa disana ada rasa cemas yang berusaha ia sembunyikan dariku dan mata alam.

“Berlajarlah dari Tuhan. Dia mencintai hambanya dengan caranya sendiri. Maka, buatlah hatimu bisa mencari cara bagaimana harus mencintaiku dengan raga yang terpisah jarak dan waktu.” Aku menundukkan pandanganku sejenak. Berusaha mengatur nafas dan ego yang selalu membuatku pengap berkepanjangan. Ada rasa khawatir saat dia memutuskan untuk meninggalkanku. Belum bisa kubayangkan bagaimana jika ragaku benar-benar berjauhan? Bahkan jauhnya antara tanah pijakan dengan tanah yang banyak menyimpan jasad manusia. Aku masih menangis sesenggukan. Rasa berat untuk melepaskannya tak pernah hilang meski sekedar lenyap sedetik saja.

“Jangan pernah menganggap bahwa setiap kepergian adalah kerusakan dari cinta, namun lihatlah! Bahwa terkadang kepergianlah yang akan menghadirkan cinta. Belajarlah untuk bersikap dewasa, ya, Dik,” lanjutnya yang kemudian diiringi dengan senyum yang cukup membuatku balas tersenyum. Segera kupeluk tubuhnya yang terasa tidak sehangat di hari-hari yang telah berlalu. Membiarkan malam menyapa kami dan memilih untuk memeluk tubuh dua jiwa yang siap untuk mengulur jarak. Purnama sempurna menatap kami dari sisi langit. Tak kupandangi betul seperti apa rautnya sebab kekasihku akan pergi dan menyisakan rindu di sepanjang lorong yang berdebu.

***

Dan pada akhirnya, takdir mempersilahkan dia untuk pergi. Sejatinya hidup, memang akan ada perpisahan setelah kita rasakan pertemuan. Itulah yang kualami setelah kepergiannya. Genap enam bulan aku serasa hidup dalam rimba. Tanpa senyum dan binar mata yang selalu membuatku jatuh cinta. Bahkan berkali-kali jatuh cinta.

Tepatnya, pada tanggal 28 Mei ada kabar yang membuatku lupa bagaimana caraku untuk bisa tersenyum ceria. Kecewa dan amarah pada Tuhan membuatku nyaris menusuk nadiku sendiri dengan pisau. Betapa tidak, laki-laki yang selalu menghadirkan cinta dari sela jemari dan bola matanya kini benar-benar pergi jauh. Sebuah kapal yang berlayar di tengah-tengah laut lepas membuat dia harus tenggelam bersama ribuan penumpang lainnya. Ombak besar menghantam kapal sehingga lepas kendali.

Aku terduduk setelah mendengar kabar itu dari salah satu stasiun televisi. Seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun dengan nama Aria Damar telah pergi. Dia pulang ke rumah yang selalu memanggil namanya bersama ribuan doa yang selalu kupanjatkan untuk dia meskipun tidak terlalu yakin bahwa esok hari aku bisa memeluk tubuhnya lagi, bersama kepingan rindu yang ia tabur di pelataran hatiku dan suara yang tetap bergeming di telingaku. Kau akhirnya pergi meninggalkanku, Mas. Kenapa kau harus punya satu alasan yang tak bisa kutolak jika pada akhirnya kau tidak akan pernah kembali untukku meski harus dengan satu alasan yang tak bisa kudapat? Kau sempurna, Mas. Kau sempurna meninggalkanku bersama cinta yang tetap utuh untukmu, bisikku di sela-sela sesenggukan. Aku berlalu menuju kamar dengan langkah lesu. Kubiarkan televisiku mengoceh sendirian dengan kabar-kabarnya yang membuatku mual dan ingin mati seketika itu juga.

***

Hari-hari yang telah mengajariku dewasa

 Aku duduk di teras depan dengan tangan yang masih memegang sebuah bingkai foto. Sejenak kuhirup dalam-dalam hawa pagi yang sejuk dengan harapan aku tidak akan menangis lagi. Terhitung sudah tiga puluh hari semenjak peristiwa itu. Hari-hari yang mendoktrin batin untuk tetap tegar sekalipun dirasanya Tuhan tidak pernah tahu bagaimana berlaku adil. Ahh, itu terdengar seperti kutukan hamba pada penciptanya. Miris dan mengerikan.

Lamat-lamat kupandangi wajahnya yang kini tersisa hanya selembar kertas dengan gurat-gurat wajah yang nampak nyata. Angin berhembus kencang tepat disisiku. Seperti sebuah nafas yang tertiup dan menjelma menjadi seonggok badan. Aku berharap dia ada di sampingku sekarang. Mengamatiku yang mulai bisa belajar dewasa dan memaknai cinta dengan sebenar-benarnya. Hari ini Tuhan membuatku bisa bersyukur setelah berhari-hari hatiku kalut dan selalu mencelaNya. Semoga ini menjadi pelajaran untukku, Mas. Setelah kepergianmu yang tiba-tiba, aku bisa mengambil ibrah bahwa Tuhan ingin memperlihatkan padaku kuasaNya dan cara Dia mencintai hamba-hambanya. Aku tersenyum datar sejenak. Ketenangan itu mulai merambat di hatiku. Sedikit demi sedikit. Selamat jalan, Mas. Aku yakin Dia Maha Tahu bagaimana harus memperlakukanmu. Mataku kembali memandangi lambaian daun yang melenggak-lenggok, seolah sedang mengikuti ritme abstrak yang menyebar tidak beraturan. Kudekap erat-erat bingkai itu. Jika saja Tuhan mengakhiri waktu besok, tentu akan tetap kupeluk fotonya sampai aku dipertemukan kembali dengan laki-lakiku. Jika saja itu terjadi.

Kini aku bisa banyak belajar dari dia dan Tuhan. Cinta tidak melulunya tentang sebuah pertemuan, tapi ia bisa tentang kepergian dengan harapan untuk bisa kembali dipertemukan. Cinta bagiku bukan sekedar memeluk seerat mungkin, tapi cinta adalah melepaskan jika dengan  memeluknya bisa membuat kita terluka. Cinta terkadang amat sederhana. Ia mirip kepingan puzzle yang terangkai tanpa sengaja setelah hari demi hari terlewati. Dan satu lagi, cinta ada karena kita terbiasa.

Untuk dirinya dan Tuhan. Aku berterima kasih karena telah mengajariku cara mencintai paling sempurna dan menakjubkan. Semoga esok lusa akan ada tubuh lain yang siap merengkuhku atau tangan halus Tuhan yang akan memindahkan ruhku ke alam selanjutnya. Atau jika tidak, biarkan saja aku menikmati hari tua tanpa perlu didampingi manusia. Cukup hayalku tentang ‘Mas Aria Damar’ dan pelukan Tuhan sampai menemui ajal.

***

0 Response to "Dirimu, Tuhan dan 28 Mei"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel