-->

Begini Cara Menahan Amarah

Manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Dalam interaksi sosial ada banyak hal yang kita alami, baik itu dari hal yang disukai atau yang tidak kita sukai. Megenai hal yang disukai kita akan merasa senang, serta ingin membalasnya dengan kebaikan. Sedangkan mengenai hal yang tidak kita sukai kita akan merasa marah, jengkel, serta ingin membalas perlakuan buruknya, atau bahkan bersikap cukup agresif.

Tak bisa kita elak bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita tentu pernah merasakan hal tersebut. Terutama soal marah, terkadang kita tidak bisa mengendalikan diri kita sendiri ketika sedang marah.

Menurut Mawardi Labay El-Sulthany, marah adalah suatu luapan emosi yang meledak-ledak dari dalam diri kita, yang dilampiaskan menjadi suatu perbuatan untuk membalas kepada orang yang menyebabkan marah. Marah cenderung membuat kita melakukan hal-hal yang berada di luar kendali kita, seperti bertindak kasar baik dalam ucapan maupun perbuatan atau bahkan bisa berakibat fatal apabila kita tidak bisa mengendalikannya. Lalu, hanya akan ada penyesalan setelah itu.

Ada baiknya jika kita bisa mengendalikan emosi kita terutama disaat kita sedang marah, betapa luar biasanya seseorang yang bisa mengendalikan dirinya dari amarahnya. “siapakah orang yang kalian anggap perkasa? Kami menjawab : “orang yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Bukan itu, tetapi orang yang perkasa adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat ia marah.” (HR. Muslim).  Sangat penting bagi kita untuk mengendalikan amarah, walaupun tidak sepenuhnya kita bisa melakukannya, setidaknya kita bisa menguranginya. Perlu kita ketahui bahwa, selama marah berlangsung, serta selama terjadinya emosi yang lainnya, dua kelenjar anak ginjal akan memancarkan hormon adrenalin yang berpengaruh terhadap hati sehingga hati mengeluarkan lebih banyak zat gula. Dalam hal ini, mengakibatkan terjadinya peningkatan energi dalam tubuh, sehingga tubuh menjadi lebih mampu mencurahkan upaya organis yang diperlukan untuk mempertahankan diri. Peningkatan energi dalam tubuh ini akan membuat seseorang lebih siap untuk melakukan permusuhan fisik terhadap orang yang membuatnya marah.

Menurut Najati (1985) dan Said Hawwa (1994) ditinjau dari beberapa segi, pengendalian amarah mempunyai manfaat yaitu yang pertama, menjaga kemampuan berpikir manusia dan pengambilan keputusan yang benar. Dalam keadaan marah, kita tidak akan pernah bisa berpikir dengan jernih. Oleh sebab itu, usahakan untuk tidak membuat keputusan apapun ketika sedang marah, agar kita tidak terjebak dalam keputusan yang salah dan kelak kita tidak akan menyesalinya. Kedua, menjaga keseimbangan fisik manusia, karena mengedalikan marah dapat melindungi manusia dari ketegangan fisik yang timbul dari peningkatan energi yang terjadi karena meningkatnya zat gula yang dikeluarkan oleh hati. Dengan mengendalikan amarah, kita akan terhindar dari melakukan tindak kekerasan, seperti agresi fisik pada seseorang yang membuat kita marah yang seringkali terjadi ketika marah sedang berlangsung. Ketiga, tidak memusuhi orang lain baik secara fisik dan kata-kata, serta tetap mempergauli orang lain dengan baik dan tenang. Dalam hal ini, ketenangan itu dengan sendirinya akan muncul dan membuat seseorang yang membuat kita marah menjadi intropeksi diri. Keempat, pengaruhnya sangat baik untuk kesehatan kita, karena bisa menjauhkan manusia dari penyakit pada umumnya yang timbul akibat emosi yang berlebihan. Tentu saja masih ada banyak lagi manfaat dari mengendalikan amarah ini, namun dapat kita lihat bahwa kita tidak akan merugi jika kita bisa mengendalikan amarah berlebihan yang ada di dalam diri kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ barang siapa yang berusaha menahan amarahnya, walaupun ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah akan  memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, hingga Allah akan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia inginkan.” (HR. Abu Daud).

Dalam benak kita tentu saja kita tidak ingin menjadi seseorang yang pemarah, terlepas dari sisi negatif yang akan didapatkan ketika kita marah. Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika sedang marah? Islam sudah mengatur kita dari bangun tidur hingga tidur lagi, termasuk dengan mengendalikan amarah, setidaknya kita bisa mencoba cara yang telah diajarkan dalam islam.

Segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz, karena marah merupakan salah satu senjata setan untuk menjerumuskan manusia. Maka godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah. Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, suatu hari beliau duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki, salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya tegang. Kemudian Rasulullah bersabda, “aku mengetahui  kalimat yang jika dibaca oleh orang ini, maka marahnya akan hilang. Yaitu dengan membaca ta’awudz : A’uudzu billahi minas syaithnir rajiim.” (HR. Bukhari dan Muslim). Selain itu kita juga bisa membaca doa seperti yang telah dijelaskan didalam Al-qur’an pada surat Al-Mu’minun ayat 97-98 “ Waqur rabbi a’uudzubika min hamazaatis syayaatiin, wa a’uudzubika rabbi ay yahduruun “ ( Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung pula kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku”).

Diam dan Jaga Lisan. Ketika seseorang sedang marah, biasanya dia akan berbicara dengan seenaknya saja tanpa adanya aturan, sehingga bisa jadi ketika dia berbicara akan menjadi sesuatu yang bisa mengundang murka Allah. Jadi, diam merupakan cara yang paling ampuh untuk menjauhi dosa yang lebih besar lagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian marah, maka diamlah.” (HR. Ahmad)
Mengambil posisi lebih rendah. Seseorang yang sedang marah cederung ingin selalu lebih tinggi dan lebih tinggi. Dengan posisi yang lebih tinggi dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Yaitu keadaan marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian marah, sedang dia dalam posisi berdiri, hendaklah dia duduk. Karena dengan begitu amarahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendaklah dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad).  Mengapa duduk dan tidur? Menurut Al-Khitabi, seseorang yang marah dalam keadaan berdiri, ia akan mudah untuk bergerak dan memukul, sedangkan orang yang duduk lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang dalam posisi tidur tidak mungkin untuk memukul, Sama seperti apa yang sudah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah Rasulullah untuk duduk, tidak lain adalah supaya orang yang dalam keadaan posisi berdiri atau dalam keadaan posisi duduk tidak langsung melakukan tindakan pelampiasan amarahnya, yang nantinya dapat membuat ia menyesal atas perbuatannya setelah melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Berwudhu. marah ibaratnya seperti api, bila dibiarkan begitu saja sampai tidak bisa terkendali maka ia dapat menghanguskan diri sendiri dan orang lain. Kita dianjurkan untuk berwudhu, karena api dipadamkan oleh air. Seperti yang telah disebutkan dalam hadits bahwa, “apabila salah satu dari kalian marah, hendaknya ia berwudhu” (HR. Abu Dawud).

Berdzikir kepada Allah. Ketika marah usahakan untuk segera berdzikir kepada Allah, memohon ampun kepada Allah, memuji nama Allah, agar hati kita tidak kosong, dan bisa menggantikan keadaan marah menjadi lebih tenang. Ketika keadaan diri kita dalam keadaaan tenang maka akan membantu kita untuk mengingat segala keutamaan dari mengendalikan amarah, dan mengingat konsekuensi jika kita tidak bisa mengendalikan amarah.

Mengingat semua kebaikannya. Ketika kita sedang marah, biasanya kita hanya mengingat semua kesalahannya, seakan kita lupa dengan semua kebaikan yang pernah ia lakukan kepada kita. Saya pernah membaca kalimat ini “ 1000 kebaikan bisa terhapus hanya dengan 1 kesalahan”. Apakah kalian pernah merasakannya juga? Saya yakin kalian pernah. Jadi, salah satu cara untuk menghindari diri dari berlarut-larutnya amarah dan dendam, maka kita harus berusaha untuk mengendalikannya dengan mengingat semua kebaikannya agar kita mudah untuk memaafkan kesalahannya. (Cahayu Diningrat)

0 Response to "Begini Cara Menahan Amarah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel